8 Akibat Yang Disebabkan Jika Terlalu Sering Bergadang

2 min read

Larangan begadang karena memiliki efek samping bagi kesehatan memang benar adanya. Ditambah di masa pandemi seperti ini segala sesuatu harus dikerjakan dirumah. Seperti study from home, work from home dan masih banyak yang lainnya.

Arti kata begadang dalam kampus besar bahasa indonesia (KBBI) adalah berjaga tidak tidur sampai larut malam. Begadang menjadi suatu kebiasaan yang tidak baik yang sering dilakukan orang, walaupun terkadang alasannya karena belum mengantuk, mengerjakan tugas atau sedang menyaksikan video sosial.

Terlalu sering begadang membuat seseorang kurang tidur. jika dilakukan hanya sekali itu tidak masalah, namun jika terlalu sering ada banyak sekali dampak bagi kesehatan yang bisa terjadi, kita simak 8 akibat jika terlalu sering begadang, hal ini berguna agar kamu bisa lebih aware sama diri kamu sendiri :

  • Tekanan Darah Tinggi

Berdasarkan sebuah penelitian, orang yang kurang tidur dari 6 jam sehari memiliki resiko unuk mengalami tekanan darah tinggi yang lebih tinggi daripada orang yang tidur cukup.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan, seseorang yang jam tidurnya kurang dari tujuh jam dalam semalam berisiko lebih besar mengalami hipertensi. Karena, selama tidur tekanan darah cenderung menurun. Apabila  memiliki tidur yang kurang baik, tekanan darahnya akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Dan bahkan apabila yang sudah memiliki riwayat tekanan darah tinggi, kurang tidur bisa menyebabkan kondisinya semakin parah.

  • Pola Makan Tidak Teratur

Akibat terlalu sering begadang dapat mengubah pola makan menjadi tidak sehat. Orang yang begadang cendrung makan pada larut malam. Study menyakinkan bahwa orang yang sering begadang umumnya mengonsumsi makanan tidak sehat yang tinggi lemak dan kalori.

Pola makan yang buruk itulah yang dapat menyebabkan kadar gula darah melonjak, kolesterol tinggi, dan rentan memicu penyakit kronis.

  • Daya Ingat Melemah

Dapat menurunkan fungsi otak untuk berpikir, fungsi otak ini terkait dengan perhatian, fokus, konsentrasi, responst, sampai kecerdasan emosional. Beberapa penelitian menunjukkan, efek begadang semalaman pada otak ini mirip dengan orang yang mabuk alkohol. Selain konsentrasi dan fokus otak yang memburuk akibat kurang tidur, ingatan juga perlahan memburuk. Karena selama tidur, saraf-saraf dalam otak yang menyimpan ingatan punya kesempatan memperbaiki diri.

  • Tidak Produktif

Tidur yang baik bisa bermanfaat untuk melakukan segala aktifitas, begitu pun sebaliknya. Jika kurang tidur dapat menyebabkan kelelahaan dan menjadi kan tubuh tidak produktif dalam melakukan berbagai aktifitas.

  • Sering Sakit Kepala

Ketika seseorang begadang, yang berarti dia kekurangan waktu tidurnya. Menurut dr. Astrid Wulan dari klikdokter, benar adanya bahwa kurang tidur dapat memicu sakit kepala.

  • Daya Tahan Tubuh Melemah

Riset membuktikan bahwa kurang tidur membuat kita lebih mudah terinveksi berbagai macam virus. Bahkan kurang tidur juga bisa memperlambat pemulihan kita dari sakit. Yang menjadikan tubuh kita menjadi lemah jika kita kurang tidur.

  • Mata Panda

Salah satu penyebab mata panda yang umum terjadi adalah kurang tidur atau pola tidur yang buruk. Kurang tidur dapat menyebabkan wajah secara keseluruhan menjadi kusam dan pucat. Akibatnya, jaringan gelap dan pembuluh darah di bawah kulit jadi terlihat.

  • Mengantuk di pagi hari

Seseorang yang suka begadang hingga larut malam akan merasakan lelah pada pagi keesokan harinya. Dikarenakan, jam biologis yang tidak bisa menyesuaikan untuk bangun di pagi hari. Pusat kajian tidur dan jam biologis dari Monash University, Australia melakukan penelitian soal kelelahan dan gangguan pola tidur. Penyebab mengantuk terus di siang hari yang paling umum adalah kurang tidur di malam hari.

Selain itu, kebiasaan tidur yang buruk juga bisa dapat disebabkan karena konsumsi kafein berlebihan atau minum alkohol terlalu dekat waktu tidur. Segera atasi masalah kurang tidur ini agar tidak menimbulkan masalah kesehatan kronis, seperti diabetes, hipertensi, sampai penyakit jantung.

 

 

Oleh: Thalia juni Yanti Mahasiswa STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *