Apa Itu Asuransi Syariah, Yuk Kenal Lebih Dekat !

1 min read

Mungkin kata asuransi syariah sudah tidak asing dikalangan masyarakat, asuransi sendiri merupakan pertanggung jawaban yang digunakan sebagai salah satu upayah meminimalisasi Risiko (Akuntansi asuransi syariah selema empat,2017). Asuransi dikenal pada masa arab jahiliyah, pada masa ini mereka melakukan praktik Aqilah. Yang mana pada masa ini keluarga atau suku pelaku suatu pembunuhan harus membayar donasi atau uang darah kepada korban pembunuhan itu. Dan konsep ini juga di benarkan oeh Nabi Muhammad SAW. Dan praktik asuransi syariah ada 6 fase, ada masa pra-Islam, masa Rasulullah, masa khalifah Rasyidin, abad ke 14-17 Masehi, abad ke-29 Mesehi dan abad ke-29 Mesehi.

Indonesia juga memiliki perusahaan asuransi syariah pertama pda tahun 1994, dengan berdirinya perusahaan asuransi takaful umum dan asuransi takaful keluanga yang hampir sahamnya dimiliki Syarikat Takaful Indonesia. pada tahun 2014 indonesia telah memiliki 49 perusahhan asuransi syariah yang berdiri dan dari 21 asuransi jiwa, 25 asuransi umum syariah dan 3 merupakan asuransi reasuransi syariah dengan total aset Rp22,4 Triliun, dan kontribusi Bruto mencapai Rp9,3 Triliun (OJK,2015).

Adapun manfaat asuransi syariah adalah rasa aman dan perlindungan,pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil, bisa juga berfungsi sebagai tabungan, alat penyebaran risiko, dan membantun meningkatkan kegiatan usaha (dalam bentuk investasi) (soemitra,2006). Memang mungkin sebagian orang sudah memahami asuransi dan juga sudah memiliki asuransi yang berangam jenisnya seperti asuransi jiwa, properti, kendaraan dan juga bisnis. Damun di Indonesia sendiri masih sangat banyak bangat orang yang belum memahami asuransi dan belum punya minat untuk beransuransi. Padahal banyak sekali risiko yang yang terjadi dan bisa di hindari dan banyak kekhawatiran apabila aset tidak diasuransikan.

Keberadaan asuransi syariah tidak semua risikonya dapat ditanggung jawabkan yang berbasis syariah, maka dari itu tidak sertamerta segala kegiatan dapat di asuransikan demi mendapatkan keuntungan. Sama halnya apabila melakukan transaksi yang dasarnya sama seperti perjudian karena dasarnya asuransi konvensional juga tidak mengasuransikan perjudian. Maka dari itu banyak hal yang harus kita pelajari untuk menggunakan asuransi syariah agar suatu risiko itu bisa terhindarkan.

Dan para ulama juga menjelaskan bahwa asuransi iru terbagi menjadi tiga bagian, pertama dipebolehkan atau Sah dengan syarat terhindar dan bebas dari riba, kedua menerima praktik asuransi umum, namun keberadaan terhadap polis asuransi jiwa karena mengandung unsur judi (maisir) dan juga mngandung unusr ketidakpastian (gharar), ketiga menolak praktik asuransi yang di dalamnya mengandung unsur riba, maisir, dan ghara ( Billah, 2010).
Aktivitas asuransi syariah, suatu akad dalam asuransi syariah harus memenuhi ketentuan terkait hak dan kewajiban antara peserta dan perusahaan, cara dan waktu pembayaran kontribusi, jenis akad, serta kejelasan anatara pengolaan akad yang bersifat hibah (tabrru) dan komersial (tijari). Dalam hal ini dapat dilihat bahwa konsep dasar asuransi syariah merupakan tolong-menolon, investasi sesuai syariah, tidak mengenal dana hangus, kalim diambil dari dana kebijkan ( tabarru) seluruh peserta, keuntungan dibagi sesuai akad antara peserta dan perusaan asuransi menggunakan sistem pembagian risiko (sharing if risk), berbasis kas (cash basis) dalam perhitungan surplus defisit underwriting, serta dibebani zakat atas keuntungan yang di peroleh (soemitra,2009).

Artikel By : Siti Erni Ansyah Nst STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *