APAKAH ISLAM MEMPERBOLEHKAN KITA MEMANFAATKAN BARANG TITIPAN?

2 min read

Dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan menitipkan barang sering kali dilakukan oleh masyarakat, terutama pada saat menjelang mudik lebaran. Barang yang dititipkan biasanya ialah berupa kendaraan bermotor, rumah dan harta benda lainnya. Lalu, dalam segi fiqh muamalat apakah boleh memanfaatkan barang titipan tersebut?

Dalam Islam kegiatan menitipkan barang disebut juga dengan wadiah. Menurut bahasa, al-Wadiah ialah sesuatu yang ditempatkan bukan pada pemiliknya, baik berupa uang, barang maupun yang lainnya. Adapun menurut ijma’ para ulama, wadi’ah adalah suatu akad antara dua pihak yang dimana pihak pertama menyerahkan suatu hal untuk dijaga oleh pihak ke dua. Sesuatu yang diserahkan itu merupakan amanah yang harus dijaga dengan baik.

Secara umum akad wadiah memiliki dua jenis dengan karakteristik yang berbeda. Pertama, wadi’ah yad al-amanah. Pada akad titipan ini, barang atau harta yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan dan digunakan oleh penerima titipan, akan tetapi sebagai bayaran dari usahanya penerima titipan diperbolehkan untuk membebankan biaya kepada yang menitipkan ketika akad berlangsung dan penerima titipan tidak memiliki keharusan untuk mengganti segala resiko atau kerusakan barang yang dititipkan kecuali atas kelalaian penerima. Dalam dunia perbankan, akad wadi’ah yad al-amanah ini tidak digunakan.

Kedua ialah wadi’ah yad adh-dhamanah. Dalam akad ini barang atau harta yang dititipkan boleh dimanfaatkan oleh penerima titipan, untuk itu penerima titipan tidak lagi memiliki keharusan untuk meminta biaya titipan oleh pemberi titipan dan harus bertanggung jawab apabila terdapat kerusakan atau kehilangan barang titipan. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW “Diriwayatkan dari Abu Rafie bahwa Rasulullah SAW pernah meminta seseorang untuk meminjamkannya seekor unta. Maka diberinya unta qurban (berumur sekitar dua tahun), setelah selang beberapa waktu, Rasulullah SAW memerintahkan Abu Rafie untuk mengembalikan unta tersebut kepada pemiliknya, tetapi Abu Rafie kembali kepada Rasulullah SAW seraya berkata,” Ya Rasulullah, unta yang sepadan tidak kami temukan, yang ada hanya unta yang besar dan berumur empat tahun. Rasulullah SAW berkata “Berikanlah itu karena sesungguhnya sebaik-baik kamu adalah yang terbaik ketika membayar.” (HR. Muslim)

Maka, ketentuan diperbolehkan atau tidaknya memanfaatkan barang titipan tergantung dengan akad wadiah yang digunakan. Apabila pada saat akad berlangsung si pemberi titipan memperbolehkan barang titipannya untuk dimanfaatkan, maka penerima titipan diperbolehkan untuk menggunakan atau memanfaatkannya. Adapun apabila saat penitipan barang tersebut terjadi kerusakan atau bahkan hilang maka penerima titipan harus bertanggung jawab. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam QS. Al-Baqarah ayat 283, “Jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercaya itu menunaikan amanatnya dan bertaqwalah kepada Allah sebagai Tuhannya.”

Akan tetapi, jika saat akad berlangsung si pemberi titipan tidak memperbolehkan penerima titipan untuk memanfaatkan barang titipannya, melainkan hanya memerintahkan untuk menjaganya, maka penerima titipan tidak diperkenankan untuk mengambil manfaat dari barang tersebut serta tidak memiliki tanggung jawab atas kerusahakan atau kehilangan barang titipan yang diakibatkan bukan dari perbuatan penerima titipan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Imam Dar al-Quthni, “Siapa saja yang dititipi, ia tidak berkewajiban menjamin” (Riwayat Daruquthni)

Sebelum melakukan titip-menitip barang, ada hukum-hukum yang seharusnya menjadi perhatian masyarakat, yaitu wadiah akan bersifat haram apabila penerima titipan meyakini dirinya akan berkhianat. Wadiah akan bersifat makruh apabila penerima titipan memiliki kekhawatiran akan berkhianat, namun apabila ia memberi tahu perasaannya kepada pemberi titipan lalu ia merasa yakin dan percaya bahwa penerima titipan layak untuk dititipi maka sifatnya menjadi mubah atau boleh. Wadiah akan bersifat sunnah apabila penerima titipan merasa dirinya mampu dan amanah untuk dititipi, dan apabila pada kondisi tertentu tidak ada lagi orang yang mampu dan jujur untuk dititipkan maka wadiah akan bersifat wajib dititipkan oleh penerima tersebut.

Artikel  By : Safira Febriyanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *