Bisnis Online Dalam Perspektif Islam

1 min read

Pandemi yang tengah dirasakan  oleh masyarakat Indonesia dan juga dunia ini menimbulkan dampak-dampak yang sangat besar disetiap aspek lini kehidupan manusia. Salah satunya terputusnya kontak sosialisasi antara manusia dan pergerakannya sangat dibatasi. Semua dilakukan dari rumah, bekerja, sekolah, kuliah, bahkan salah satunya juga berbisnis. Keadaan pandemi sekarang ini semakin menuntut banyaknya masyarakat untuk melakukan bisnis atau usaha online, yang dimana tidak perlu mempertemukan penjual dan pembeli secara langsung melainkan melalui situs atau platform tertentu.

Adakah Peluang Bisnis Secara Online?

Melihat peluang yang dihasilkan oleh bisnis online yang sangat besar, terlebih keadaan sekarang yang sangat mendukung, maka masyarakat akan berbondong-bondong membuat usaha menggunakan teknologi media sosial tersebut demi mencukupi kebutuhan ekonominya. Keuntungan dari Bisnis online ini, selain hemat waktu dan praktis, juga banyak mendatangkan keuntungan financial bagi seseorang yang menjalankan bisnis tersebut. Pemanfaatan waktu untuk menjalankan bisnis online tentu juga mampu mendatangkan penghasilan tambahan yang nilainya tidak sedikit dan kondisi ini terus berkembang pesat, dikarenakan menjalankan bisnis ini tidak menyita banyak waktu, cepat, dan praktis.

Apakah Akadnya sesuai dengan Syariat Islam?

Namun, apakah transaksi bisnis online tersebut sudah sesuai dengan transaksi yang diperbolehkan dalam Islam ? Jawabannya belum tentu. Semakin banyak media dan platform yang digunakan, maka berbeda-beda pula teknis dan proses transaksinya. Lalu bagaimanakah seharusnya transaksi online yang diperbolehkan dalam islam ?

Sedikitnya terdapat tiga parameter Kesesuaian syariah yang harus di pahami oleh pembeli sekaligus penjual.

Pertama

Bisnis online tersebut harus terbebas dari transaksi yang dilarang dalam Islam. Terdapat sepuluh macam transaksi yang dilarang dalam Islam diantaranya, riba, gharar, maysir, risywah, two-in-one, dana non halal, praktik ikhtikar atau monopoli, ba’iun najasy, ba’i ad dai bil dain, dan ba’i al-inah. Transaksi bisnis online yang kita lakukan harus dipastikan terbebas dari sepuluh hal diatas.

Kedua

Bisnis online yang kita lakukan harus sesuai dengan akad atau transaksi syariah. Akad ini terbagi menjadi dua, yaitu akad tijari dan akad tabaru’. Akad tijari yaitu segala macam perjanjian yang menyangkut for profit transaction, akad ini merupakan akad komersial dengan tujuan mencari keuntungan. Contohnya akad murabahah, mudharabah, musyarakah, qard, salam, istishna, dan akad lainnya. Sedangkan akad tabaru’ adalah transaksi yang mengandung perjanjian dengan tujuan tolong-menolong tanpa adanya syarat imbalan apa pun dari pihak lain. Contohnya, zakat, wakaf, infaq, dan sedekah.

Ketiga

Bisnis online yang kita lakukan harus menjaga adab-adab berbisnis dalam Islam. Sebagai penjual harus jujur dalam menjalankan usahanya, terlebih lagi transaksi bisnis online ini tidak mempertemukannya penjual dan pembeli, maka diperlukan kejujuran untuk kedua belah pihak terkait. Produk yang dijualkan juga harus produk atau barang yang halal, bukan yang haram. Sebagaimana kepercayaan pembeli kepada penjual sangat bergantung dengan adab dan etika ketika proses transaksi terjadi. Keduanya sebisa mungkin sama-sama saling menjaga kepercayaan satu sama lain agar tidak ada pihak yang dirugikan dalam transaksi tersebut.

Kesimpulannya

Bisnis online ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat asal proses dan tatacara transaksinya sudah sesuai dengan prinsip syariah. Tidak hanya penjual yang harus memperhatikan prosesnya, namun pembeli pun harus lebih teliti sebelum melakukan transaksi. Sebagai pembeli kembali harus memperhatikan dan menelaah terlebih dahulu proses daring yang digunakan dalam sebuah transaksi, agar transaksi yang terjadi benar-benar sudah sesuai dengan prinsip syariah dan kedua pelaksana terkait mendapat berkah dari Allah SWT.

 

 

Oleh: Erianty Putri Rahayu, Mahasiswa STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *