Child Free, Trend Baru Yang Menyimpang Dari Adab Islam Serta Fitrah Manusia

2 min read

Ghazwul fikr yang semangkin menjadi di era kontemporer ini memang sedang panas panasnya. Permikiran pemikiran liberal, sekuler serta pemikiran buruk lain nya mulai menyerang kaum muslimin yang seharus nya selalu berpegang teguh pada Al-Quran dan assunnah yang nantinya akan menguatkan Aqidah dan worldview of islam nya di dunia ini.

Beberapa waktu ini trending baru muncul di media sosial yang di pelopori oleh seorang influencer tentang “childfree”, Yaitu adalah trend tidak ingin memiliki anak setelah menikah (tanpa alasan yang syari) diluar alasan medis atau perencanaan keluarga. Singkat nya tidak ingin mempunyai anak saja.

Banyak nya alasan yang terlontar dari para pengusung ideologi childfree yang merusak fitrah manusia ini, mulai dari takut cita cita nya terganggu, takut jiwa nya sakit alias stress atau sakit fisik, padahal itu cuman alasan omong kosong yang dibuat kesan nya baik namun pada hakikat nya tidak.

Jika di bedah dari segi bahasa, dalam kajian nya ust akmal “penggunaan istilah child free. Child yaitu anak, dan free yaitu kebebasan. Tandanya bagi dia anak adalah sebuah penjajahan makanya dia ingin free, freedom alias bebass”.

Terus bagaimana kalo orang nya “tidak mampu” bukan “tidak mau” memiliki anak ?

Dalam child free isu yang di fokuskan nya bukan tidak mampu memiliki anak atau tidak bisa memiliki anak dengan alasan medis misal nya dia dikatakan mandul atau penyebab medis lainya. Melainkan isunya ialah memilih untuk tidak memiliki anak. Jikalau isunya tidak ingin menyusahkan anak maka seharusnya, melihat dari kata nya ada makna free menandakan ada unsur kebahagiaan didalam makna nya. Tidak sepatut nya bagi seorang muslim bahagia jika tidak ingin memiliki anak.

Dari penjelesan di atas bisa di simpulkan bahwa childfree itu konsep dan pengertian nya ini berbeda dengan tidak bisa memiliki anak yang di sebabkan diagnosa medis.

Tidak ingin memiliki anak melawan fitrah manusia terutama ia beragama islam

Dalam salah satu kajian ust akmal syafril di mqfm radio beliau menjelaskan bahwa :

“Dari cerita Rasulullah yang begitu sayang pada anak anak nya, sebenernya kita semua bisa mengambil pelajaran bahwa memelihara anak adalah cara allah untuk mentarbiyah kita untuk menjadi orang yang baik, yang dimana tadinya kita hidup untuk diri kita sendiri jadi mulai memikirkan bagaimana mengurus dan mendidik anak di rumah. Saya yakin siapapun yang punya anak akan sepakat dengan saya bahwa kita ini berubah lebih baik menjadi (lebih baik) ketika sudah mempunyai anak. Dulu bisa saja bertindak sesuka hati namun ketika sudah punya anak tidak bisa asal maunya saja sendiri. Dan dengan mempunyai anak secara fitrah manusia allah akan menanamkan rasa kasih sayang kepada setiap hambanya.”

Sebenernya soal menikah dan memiliki anak sudah diletakan secara adil dalam islam, jika seseorang dalam menjalani hidupnya mempunyai wolrdview of islam yang baik maka orang tersebut pasti mampu menempatkan masalah ini dengan bijak.

Sudah menjadi fitrah manusia senang jika memiliki manusia yaitu terdapat pada quran surat ali imran ayat ke 14

Dari ayat ini pada hakikat nya memang fitrah manusia, Allah menjadikan indah pandangan kita  pada anak anak,  jadi bagi orang yang memutuskan tidak ingin memiliki anak dalam hidup alias child free satu point penting yaitu ia telah menyalahi fitrah yang telah allah berikan pada setiap hamba nya.

ustadz Adian husaini, beliau juga ikut berkontribusi dalam pembahasan beliau berkata :

“anak manusia itu sangat berharga, tidak perlu hawatir soal rezeki jika memiliki anak karena allah sudah memastikan jaminan soal rezeki anak anak itu sendiri. Jadi soal child free bisa di tempatkan sesuai tempatnya, dengan adil dan beradab. Jikalau memang ada penyakit yang me nyebabkan tidak bisa memiliki anak atau kondisi tertentu baiknya di tanyakan dulu ke ahlinya atau juga bisa di bilang harus di ikhtiarkan terlebih dahulu seperti berobat dsb. Dan bagi yang mampu memiliki anak maka ikhtiarkanlah terlebih dahulu untuk memiliki anak serta berikhtiar lah dengan mendidik nya yang baik.”

Terakhir bisa di simpulkan bahwa dengan memiliki worldview islam alis sudut  pandang islam yang baik akan menimbulkan efek domino jangka kedepan nya, yang dimana nanti akan menghasilkan sebuah tindakan serta perilaku kita di dunia dan di pertanggung jawabkan di akhirat pastinya.

 

 

Oleh: Rizal Aziz Alfaridzi, Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah 2018, STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *