Faktor-faktor Munculnya Sengketa Bisnis dan Cara Penyelesaiannya

2 min read

Memasuki dunia bisnis tentunya tidak akan mudah. Setiap transaksi yang dilakukan memiliki potensi yang sangat besar untuk menghasilkan suatu permasalahan yang kemudian terjadilah suatu perkara. Semakin luas ranah perdagangan semakin pula menimbulkan frekuensi perkara yang tinggi, hal ini menuntut setiap pelaku usaha untuk segera menyelesaikan perkara. Mendiamkan perkara tidak akan membuat perkara menjadi selesai. Mendiamkan perkara justru akan mengakibatkan perkembangan pembangunan usaha tidak efesien, produktifitas menurun, dunia bisnis mengalami kemandulan dan biaya produksi meningkat serta konsumen adalah pihak yang paling merasa rugi. Umumnya perkara perkara dalam dunia bisnis ini didahului penyelesainnya dengan cara negosiasiatau kekeluargaan . Jika cara negosiasi gagal atau tidak memberikan hasil, maka penyelesainnya akan ditempuh dengan cara persidangan atau arbitrase.  Sebelum membahas mengenai acara penyelesaian sengketa maka harus dipahami dulu apa itu sengketa?, Nah Sengketa Bisnis adalah suatu permasalahan yang dialami oleh pelaku bisnis yang muncul dalam kegiatan bisnis. Mengutip dari perkataan Maxwell J. Fulton sengketa bisnis adalah suatu hal yang muncul selama berlangsungnya proses transaksi yang berpusat pada ekonomi pasar.

Berikut adalah faktor faktor yang menyebabkan terjadinya sengketa

  1. Adanya unsur ingkar janji atau penipuan yang dilakukan oleh salah satu atau kedua pihak yang melakukan perjanjian.
  2. Salah satu pihak atau pihak pihak melakukan kegiatan yang diluar dari perjanjian.
  3. Salah satu pihak atau pihak pihak melakukan keterlambatan ketidak tepatan waktu dari yang sudah diperjanjikan.
  4. Salah satu pihak atau pihak pihak melakukan sesuatu yang menimbulkan pertikaian sehingga merugikan salah satu pihak.

Kemudian berikut adalah cara penyelesaian sengketa

Mekanisme penyelesaian sengketa terbagi atas dua, yaitu penyelesaian sengketa dilakukan melalui pengadilan atau litigasi dan penyelesaian sengketa dilakukan dengan tidak melalui pengadilan atau non litigasi. Indonesia adalah negara yang memiliki banyak ragam suku serta budaya, dan memiliki cara yang berbeda beda dalam menyelesaikan sengketa yang terjadi di wilayah masing masing pelaku sengketa. Secara umum masyarakat biasanya menyelesaikan sengketa dengan cara bermusyawarah atau negosiasi serta secara kekeluargaan atau mengikuti adat dan budaya daerah. Tidak dapat dipungkiri bahwa kiblat hukum Indonesia adalah berasal dari budaya Barat, sehingga masyarakat secara perlahan meninggalkan cara mereka dalam menyelesaiakn perkara, karena terpengaruh oleh budaya Barat yang dimana penyelesaian sengketa haruslah melalui peradilan.

Berikut adalah beberapa mekanisme penyelesaian sengketa:

  1. Negosiasi

Negosiasi kata negosiasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu dari kata to negotiate serta to be negotaiting yang memiliki arti merundingkan; menawarkan; dan membicarakan. Negotiation memiliki arti kegiatan dalam merundingkan atau membicarakan sesuatu dengan pihak lain demi mencapai suatu kesepakatan. Dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian negosiasi adalah suatu proses diskusi yang dilakukan demi menyelesaikan suatu masalah dengan cara yang bisa diterima oleh pihak lain yang melakukan negosiasi. Tujuan Negosiasi adalah untuk mendapatkan kesepakatan yang dinilai saling menguntungkan, menyelesaikan masalah dan mendapatkan solusi atas setiap masalah yang dialami pihak yang bernegosiasi, serta untuk mendapatkan kondisi yang saling menguntungkan bagi setiap pihak yang bernegosiasi.

  1. Mediasi

Mediasi merupakan suatu upaya penyelesaian masalah atau konflik antara dua pihak yang berselisih dengan bantuan pihak ketiga atau pihak penengah. Pihak ketiga atau pihak penengah tersebut harus bersifat netral, maksudnya adalah tidak berpihak ke siapapun dan tidak memiliki wewenang untuk mengambil keputusan.

  1. Arbitrase

Arbitrase adalah proses penyelesaian sengketa dengan menggunakan pihak ketiga, dimana permaasalahan akan diserahkan kepada pihak ketiga , karena kedua pihak tidak mampu menyelesaiakannya sendiri.Yang memilih pihak ketiga adalah dari kedua belah pihak atau badan yang berwenang. Penggunaan pihak ketiga disini antara lain untuk mengurangi ketegangan yang terjadi dalam perkara, dan pihak ketiga yang dipilih haruslah orang yang berkualitas, yaitu yang memahami secara jelas tentang permasalahan yang ada.

 

 

Oleh: Isna, Mahasiswa STEI SEBI

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *