Harus Tetap Tegar di Jalan Dak’wah

1 min read

Islam

Islam tegak di atas pondasi yang kokoh yakin aqidah shahihah dan ibadah asasiyah. Syahadatain dan rukun iman yang enam adalah esensi pondasi tersebut. Selebihnya, ibadah asasiyah tercermin dalam rukun Islam, sejak dari shalat, zakat, puasa, dan haji. Kesemua itu unsur – unsur penyusun bangunan dasar (pondasi) struktur bagunan Islam.

Makna Menegakan Ad-Dien

Bisakah seseorang aman berterduh pada rumah yang hanya berdiri pondasi saja? Atau rumah yang tanpa pondasi tapi hanya tiang – tiang penyangga saja? Itulah makna menegakkan ad-Dien, yakni menengakkan sebuah bangunan yang kokok pondasi, atap beserta seluruh pelengkap bangunan tersebut.

Sesungguhnya penegakkan ad-Dien itu tidaklah mudah. Bisa jadi shalat, puasa, zakat, dan haji bisa dikerjakan pada kondisi bagaimana pun. Dalam arti, seseorang shalat tidak perlu menunggu tegaknya sistem politik Islam. Demikian pula puasa bisa dikerjakan tanpa harus menunggu tegaknya sistem social Islam. Atau membayarkan zakat bisa dikerjakan walaupun sistem ekonomi Islam belum tegak.

 Kalau begitu semua perlu ‘medium’ yang sesuai?

Memang, semuanya perlu medium yang tepat. Islam tak bisa berfungsi rahmatan lil ‘alamin jika ditegakkan hanya bagian demi bagian saja. Parsialisasi ajaran Islam ini membawa dampak yang amat pahit bagi kehidupan kaum muslimin itu sendiri. Mereka terpaksa harus berteduh di dalam sebuah rumah yang kropos. Pondasinya lemah, tak memiliki tiang penyangga, serta tak beratap. Lalu bagaimana mereka bertahan dari terik panas dan terpaan hujan badai? Tidakkah kondisi ini disadari?

Karena itulah diperlukan dakwah Islam. Ummat Islam harus dibangunkan dari tidurnya yang kelewat panjang. Ummat harus disadarkan dengan kewajiban – kewajiban Rabbani yang mulia ini, yakni untuk menegakkan ad-Dien dalam segala aspeknya. Memang, ini bukan kerja ringan yang mudah. Ini kerja besar dan berat.

Diantara manusia ada yang telah menjual dirinya kepada Allah secara ikhlas, mereka waqafkan diri dan harta mereka di jalan Allah. Telah disadarinya bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, dan ada kehidupan kekal yang dijanjikan Allah bagi setiap hamba yang mau menjual diri kepada-Nya. Demikianlah sifat dan karakter seorang da’i Islam; waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan jiwanya telah diserahkan untuk kejayaan Islam. Allah Ta’ala berfirman :

“ dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah, dan Allah Maha penyantun kepada hamba – hambaNya” (Al-Baqarah (2) : 207).

Ruh Kehidupan

Ruh dari kehidupan adalah Al-Qur’an dan bagaimana mungkin seseorang hidup tanpa ruh, karena kita sejatinya sangat membutuhkan ruh yang sangat murni dan suci, bukan hanya sekedar terlisan dalam bibir tetapi bagaimana ruh Al-Qur’an terpatri dalam sanubari. Benarlah Al-Qur’an yang mulia turun bukan dengan masalah hukum terlebih dahulu tetapi bagaimana penerimaan Allah-Lah yang didahulukan.

Jalan dakwah itu memang tidak mudah, tetapi bukan berarti sang maha pemilik pertolongan tidak membersamai kita sebagai pelaku dakwah, ingin ku ucapkan sekali lagi untuk kamu yang tegar di jalan dakwah, karena jalan ini adalah jalan tercepat untuk mencapai surga Allah yang kenikmatnya tiada bandingannya.

 

Oleh: Arsha Nurma Mahasiswa STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *