INVESTASI DAN NABUNG EMAS DALAM PERSPEKTIF ISLAM FIQIH MUAMALAH

2 min read

Pada masa pandemi saat ini keuangan nasional mudah tergoyang. Mulai dari UMKM sampai usaha besar merasakan dampaknya. Keterpurukan ekonomi ini membuat para pelaku usaha harus berusaha keras untuk bisa survive mempertahankan usahanya atau memutuskan gulung tikar untuk mencegah kerugian yang tidak terkendali. Tidak terkecuali harga saham yang ikut bergoyang, nilai properti menurun, hingga mencapai angka inflasi dan resesi.

Inflasi yang terjadi dapat membuat nilai mata uang susut dan ini yang membuat harta yang anda simpan dalam bentuk uang atau rupiah mudah mengalami penyusutan. Seperti contoh ketika di tahun 2019 anda memiliki tabungan Rp5.000.000 dalam bentuk uang maka nilai Rp5.000.000,- tidak akan sama dengan Rp5.000.000,- di tahun 2021 yang mengalami inflasi. Di tahun 2019 anda bisa berbelanja 5 troli dengan uang Rp5.000.000,- di super market, namun di tahun 2021 bisa jadi anda hanya bisa berbelanja 3 troli dengan ung Rp5.000.000,- itulah yang dinamakan inflasi. Inflasi yang meningkat akan berbahaya jika tidak dibarengi dengan meningkatnya pendapatan. Maka hal yang harus dilakukan dalam menyelamatkan harta anda adalah berinvestasi dengan jenis investasi yang masih bisa bertahan di masa inflasi atau ketidak stabilan ekonomi yaitu dengan berinvestasi emas. Dody Martimbang sebagai General Manager Antam berkata, “Emas itu cenderung stabil. Dalam jangka panjang pasti naik. Investasi jenis ini bisa jadi safe haven,” di detikFinance, Sabtu 26/9/2015.

Investasi emas cukup menguntungkan dibanding dengan investasi saham atau lainnya dalam jangka panjang karena emas nilainya tidak mudah bergoyang, bahkan ketika inflasi nilai emas cenderung melejit dan mudah ditukar atau diperjualbelikan. Sebagai contoh nyata, jika tahun 2010 anda memiliki emas 1 gram dengan harga pada saat itu Rp300.000,- pergramnya dan di tahun 2021 harga emas per-gram adalah Rp900.000,- maka investasi emas anda mengalami keuntungan sebanyak Rp600.000,-.

Dalam islam berinvestasi emas sangat dianjurkan karena memiliki kepastian nilai yang selalu naik dalam jangka panjang. Diperbolehkan dalam islam, asalkan mengeluarkan zakat ketika sudah mencapai hisab yaitu 85 gram. Menyimpan harta dalam emas dan berencana menjualnya ketika harga emas naik tidak termasuk dalam kategori “ihtikar” (penimbunan), yang mana melakukan pembelian kebutuhan pokok untuk ditimbun dan dijual ketika harga melejit naik dan hal itu dilarang karna jelas merugikan umat dan meruska kemashlahatan. Rasulallah SAW bersabda “Barangsiapa menimbun barang, maka dia berdosa.” (Shohih Muslim, no.1605).

Saat ini industri emas memudahkan masyarakat untuk berinvestasi emas dengan gaya menabung emas. Caranya dengan mereka mengeluarkan produk emas antam dalam ukuran mulai dari 0,025 gram dengan harga mulai dari Rp30.000,- an. Ketika sudah mencapai 1 gram maka kepingan emas ditukar menjadi 1 keping 1 gram yang bisa ditukar di semua tempat jual beli emas.

Berdasarkan ilmu fiqih dan hukumnya, dasar hukum investasi emas adalah fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 77/DSN-MUI/VI/2010 tentang Jual-Beli Emas Secara Tidak Tunai. Masing-masingnya memang memiliki prinsip yang hampir sama dengan tabungan lainnya, hanya saja tanpa adanya bunga bila menganut sistem syariah. Investasi emas dinilai bukan dari setoran tabunganya, tapi dari nilai emas yang dibeli oleh tabungan emas syariah. Melalui Surat Edaran BI (SE BI) Nomor 14/7/DPBS tanggal 29 Februari 2012 tentang Produk Qardh Beragunan Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah (UUS), BI berupaya mengurangi unsur spekulasi dan risiko atau permasalahan yang mungkin timbul dalam invetasi emas dan bisnis gadai emas.

Berdasarkan keputusan Bank Indonesia tersebut, investasi emas hanya bisa dilakukan di Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah (UUS). Ini dikarenakan adanya peraturan baru di BI yaitu surat Edaran BI Nomor 14/7/DPbs yang membatasi pembiayaan maksimal gadai hanya Rp. 250.000.000,- per nasabah. Murabahah menjadi akad yang dipilih untuk pembiayaan kepemilikan emas denganjaminan diikat dengan Rahn (gadai).

Nabung emas dengan layanan pembelian dan penjualan emas dengan fasilitas titipan atau seperti beli emas kemudian dititipkan ke bank syariah sebagai tabungan, sehingga yang ditabung bukan uang tetapi emas. Secara fiqih nabung emas boleh dengan ketentuan saat emas diserahkan tunai atau tidak tunai, maka emasnya harus ada dan emas yang sudah dimiliki tersebut harus mu’ayyan ( jelas wujudnya). Seperti jenis karatnya, serinya, dan lainnya (berubah dari maushuf menjadi mu’ayyan). Saat ada penawaran secara online maka jelas spesifikasinya (masuhuf) agar sesuai dengan keinginan pembeli. Saat emas dititip di bank syariah, maka jelas hak dan kewajibannya; apakah jasa peitipan tersebut berbayar atau tidak, kapan dan bagaimana emas tersebut diserahterimakan, serta siapa yang bertanggung jawab atas biaya segregasi/pemotongan (jika ada) dan biaya pengirimannya, perusahaan yang menjuak produk nabung emas legal dan diawasi oleh otoritas dan Dewan Pengawas Syariah sebagai mitigasi resiko agar terhindar dari penyimpangan. (DR. Oni Sahroni).

Artikel By : Rizky Nur Fajriah STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *