Jaminan Dalam Perbankan Syariah

1 min read

Pengertian Jaminan

Jaminan adalah suatu aset atau barang berharga yang diberikan oleh pemberi jaminan kepada penerima jaminan saat mengajukan suatu pinjaman sebagai tanggungan atas pinjaman tersebut. Jaminan biasa digunakan seseorang ketika ingin melakukan pinjaman atau utang kepada pihak lain. Jaminan yang digunakan dapat berupa barang atau surat-surat berharga yang bisa menjamin seseorang yang memberikan jaminan tersebut membayar sesuai perjanjian. Jaminan merupakan suatu hal yang penting dalam berbagai macam kegiatan masyarakat. Salah satunya dalam kegiatan perbankan syariah.

Konsep Jaminan Syariah

Dalam konsep jaminan bank syariah dikenal dengan tidak adanya bunga jaminan yang menjadi biaya tambahan yang harus pihak pemberi jaminan berikan kepada pihak penerima jaminan. Perbankan syariah menggunakan konsep jaminan dari hukum kafalah. Kafalah merupakan hukum jaminan dalam Islam untuk menyatukan tanggung jawab pemberi jaminan kepada pihak penerima jaminan sebagai hak yang wajib diwaktu sekarang maupun waktu yang akan datang. Dasar hukum kafalah berupa kaidah fiqih yang berbunyi “Dasar dari semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali terdapat dalil yang mengharamkannya dan bahaya harus dihilangkan”. Menurut Abdul Ghofur Anshori secara fiqih terdapat tiga macam kafalah yang dapat diterapkan dalam produk perbankan syariah yaitu kafalah bi nafs yaitu jaminan dari diri peminjam, Kafalah bil maal, yaitu jaminan pembayaran hutang atau pelunasan hutang, penerapan jaminan ini dalam perbankan dalam bentuk jaminan uang muka atau jaminan pembayaran dan wakalah yang terakhir yaitu kafalah muallaqoh, yaitu jaminan mutlak yang dibatasi oleh waktu tertentu, penerapan jaminan ini pada perbankan modern untuk jaminan pelaksanaan suatu proyek atau jaminan penawaran.

Kapan Akad Kafalah Digunakan?

Akad kafalah digunakan untuk produk bank garansi yang juga merupakan bentuk jaminan. Dalam perjanjian bank garansi, terdapat konsekuensi yang akan ditanggung oleh bank penerbit dapat dilindungi oleh kontra garansi baik perlindungan penuh maupun tidak, yang diberikan oleh nasabah. Perjanjian jaminan dalam perbankan syariah merupakan perjanjian tambahan yang berasal dari perjanjian pokoknya, yaitu perjanjian yang dijamin dengan pihak ketiga. Jika dalam pelaksanaanya terjadi sengketa akibat tidak terpenuhinya kewajiban yang dilakukan debitur maka berikut upaya yang dapat dilakukan :
1. Jika kontra garansi dengan full cover. Maka pihak bank dapat langsung menggunakan jaminan sebagai ganti atas dana yang dikeluarkan untuk membayar bank garansi.
2. Jika kontra garansi dengan non full cover, maka pihak bank dapat melakukan 3 upaya yaitu:
a) Pihak bank dapat meminta kepada nasabah untuk segera membayar dana yang kurang.
b) Pihak bank dapat merubah kekurangan biaya tersebut menjadi pembiayaan qardh itupun harus dengan persetujuan nasabah.
c) Jika nasabah tidak mampu membayar kekuarangan dana maka dana tersebut menjadi pembiayaan qardh. Dalam fatwa DSN Majelis Musyawarah Indonesia No:11/DSN-MUI/IV/2000, apabila tidak tercapai kesepakatan dalam penyelesaian maka dapat dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah.

 

 

Oleh: Nur Alfia Kurnia Hasan ( Mahasiswa STEI SEBI )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *