Kebangkitan Ekonomi islam dengan Pemberdayaan Masjid

2 min read

 

Indonesia sebagai sebuah negara dengan mayoritas muslim terbesar didunia memiliki potensi menjadi imperium negara negera islam dunia. Hal ini seperti yang dikemukakan Utsadz Salim A Fillah di berbagai ceramahnya yang didapat dari obrolannya dengan Syeikh Dr. Abu Bakar Al Alawidah yang merupakan alim ulama dari Palestina pada tahun 2017. Bahwa Baitul Aqsa akan di bebaskan oleh min jihadil khurasan yang artinya jauh dari negeri barat khurasan. Yang itu adalah Indonesia. Untuk itu Indonesia adalah negara yang ditunggu tunggu untuk kebangkitan islam. yang mana jika dilihat semua kebangkitan islam selalu diiringi dengan kebangkitan ekonomi di sekitaran masjid.

Bagaimana Ekonomi islam di Indonesia bisa bangkit ? dimulai dari manakah kebangkitan tersebut ? dan siapakah yang akan menjadi pelopor kebangkitan tersebut ?

Jika dilihat bagaimana islam akan bangkit maka hal yang pertama kita lihat adalah masjid sebagai pusat peradaban islam berfungsi sesuai dengan fungsinya. jika dilihat dari sejarah islam, maka kita akan melihat bagaimana umat muslim terdahulu bangkit menjadi sebuah kekuatan besar dari sebuah masjid. Pada zaman rasulullah shalallahu alaihi wassalam ketika sampai di madinah maka hal yang pertama beliau lakukan adalah membangun masjid yang akan di jadikan sentral aktivitas kegiatan umat islam mulai dari beribadah hingga memikirkan strategi perang.

Menurut Dr. Valentino Dinsi mengatakan bahwa kebangkitan ekonomi pada masa itu di awali dari sebuah masjid, masjid tersebut kita kenal dengan sebutan masjid nabawi. Bagaimana di masjid itu para muslim di ajari dan saling berdiskusi bukan hanya masalah ibadah hablumminallah, melainkan juga membahas bagaimana muamalah (hubungan sosial) antar sesama manusia atau biasa di sebut dengan Hablu Minannas, dari masjid tersebutlah ilmu muamalah maaliyah atau ilmu tentang perdagangan di ajarkan. Hingga pada akhirnya umat muslim mempunyai pasar dan menguasai perekonomian nya yang ketika itu di pimpin oleh Abdurrahman bin Auf ra.

Hal ini pun di tiru oleh recep thayyib erdogan. Dalam membangun turki setelah dinyatakan negara yang gagal oleh bangsa bangsa di eropa. Akan tetapi, ketika sebagai PM (Perdana Mentri) Turkhy Erdogan membangun sebuah pondasi keagaman dengan memanfaatkan sejarah keemasan turki dengan narasa pondasi keagamaan dengan menggaungkan sholat subuh berjamaah di masjid. Setalahnya di gaungkan gerakan Zakat, Infaq, dan Shadaqah yang di gunakan untuk membantu keuangan negara. Baru kemudian kelularlah kebijakan moneter dan fiskal yang di buat oleh pemerintahan. Tentu alur tersebut didukung dengan sangat antusias oleh masyarakat karena mereka tau mau dibawa kemana negara turki dengan berbagai kebijakan yang ada, hal itu dibangun dan diawali lewat gerakan yang terjadi pada masjid.

Kegiatan yang beragam itulah yang menjadikan masjid sebagai pusat peradaban. Di Indonesia sendiri menurut Ketua Dewan Masjid Indonesia Prof. Jusuf Kala yang di muat dalam portal berita Antara menyatakan bahwa jumlah masjid di Indonesia mencapai 80000 Masjid yang sudah terdata. Untuk itu potensi di Indonesia sudah sangat besar di tambang dengan kesadaran masyarakat yang muali tumbuh sejak pristiwa 121. Hal ini lah yang harus di pegang dan dikelola dengan baik oleh setiap elemen masyarakat terutama pengurus masjid. Karena Semua peran kebangkitan ekonomi dibangun pada masjid. Masjid sebagai fundamental keyakinan dan pengetahuan yang dengannya mampu menjadi kan manusia yang jujur dan amanah dalam melakukan sesuatu. Terutama menjalankan perintah dari Allah SWT yang salah satunya adalah ZIS (Zakat Infaq, dan Shadaqah) untuk di kelola.

Tentu dana tersebut tidak dapat terkumpul dengan sendirinya. Masjid harus punya kepercayaan masyarakat mengingat banyak sekali lembaga lembaga philantrophy yang mengambil peran masjid dalam hal ini. Memang bukan menjadi sebuah masalah karena yang menjadi fokus tujuannya sama. Namun, akan lebih baik jika lembaga philantrophy dan masjid berkerja sama baik dalam penghimpunan maupun penyalurannya.

Ketika dana tersebut di kelola dengan baik maka islam akan tumbuh dan bangkit menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang besar dan tak terkalahkan. Hal ini juga akan menjadikan seluruh alam merasakan nikmat dari berdiri tegaknya ekonomi Islam di muka bumi. Mengingat tujuan dari ekonomi islam adalah tujuan dari syariat yang telah dibawakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam yaitu menjaga Adh dharuriyat al Khams.

Pengelolaan pada dana ZIS dapat berupa kegiatan ilmiah maupun sosial yang harus merata. Kegiatan ilmiah seperti kajian kajian tentang Aqidah, Akhlak, Fiqh baik Ibadah maupun muamalah menjadi pondasinya, dan kegiatan sosial sebagai implementasai dari pondasi tersebut hingga berdirilah ekonomi islam. tentu hal itu membutuhkan peran kita sebagai umat muslim mengembalikan kejayaan islam diberbagai aspek kehidupan yang bisa dimulai dari masjid.

 

Oleh; Muhammad Hafidh Sabillah, Mahasiswa STEI SEBI (41084027)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *