Mengenal Jenis-jenis Manajemen Risiko Bank Syari’ah

3 min read

Bank Merupakan salah satu lembaga intermediasi(perantara keuangan) merupakan proses pengumpulan sejumlah dana dari hasil unit surplus (penabung) kemudian menyalurkannya ke unit defisit (peminjam),yang merupakan unit usaha baik dari pemerintah maupun rumah tangga.Kata bank sendiri jika kita telusuri bahwa dalam bahasa Prancis ia disebut banque kemudian dari bahasa Italia disebut banco yang arti keduanya peti/lemari atau bangku.Dari arti kata tersebut dapat kita tarik makna lain yang tentu berhubungan dengan bank komersial yuang tugasnya menyimpan dana atau harta nasabah,seperti peti emas,peti berlian,dan harta lainnya yang dititipkan oleh para nasabah.Dari Peti-peti tersebut bank mendapatkan kehidupan yang disebut laba bersih setelah dikurangi pajak dan pengeluaran Lain-lain.

Di Indonesia sendiri ada Bank Indonesia sebagai bank sentral yang tugasnya:Pertama,Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter: kebijakan terkait suku bunga bank dan surat-surat berharga.Kedua,Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran: munculnya sistem pembayaran yang bervariasi memerlukan pengaturan yang baik.Ketiga,Mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia.Tentu saja Bank Indonesia yang bisa dibilang sebagai bank induk harus mengatur segala sistem baik pembayaran,percetakan uang yang seharusnya beredar dan berjalan di Indonesia.

Masyarakat Indonesia tentu sudah mengetahui ada 2 jenis bank umum yang sekarang ini beredar di masyarakat baik itu secara konvensional dan berdasarkan prinsip syari’ah,sebagai lembaga penghubung (intermediasi) bank konvensional menyalurkan dana nasabah,atas simpanan nasabah tersebut akan mendapatkan imbalan berupa bunga,kemudian dislurkan kepada yang membutuhkan demikian pula di perjanjian memberikan pinjaman terbut ada bunga,Oleh kebanyakan orang aktivitas inim dianggap saling tolong menolong dintara manusia karena terselesaikannnya satu masalah atas kurang dana dan bagi bank ini suatu cara untuk mengurangi dana menganggur.

Masa depan perbankan dalam menghadapi tantangan baik tekhnologo juga informasi,ditentukan bagaimana manajemen risiko itu dibuat.Karena semakin berkembangnya tekhnologi dan informasi diharuskan perbankan islam harus bisa menyaingi perbankan konvensional,risiko yang akan dihadapi oleh Bank syariah tentu lebih banyak jenis atau variasinya dibandingkan bank konvensional,sehingga manajemen bank syariah dittuntut untuk memiliki strategi dan tekhnik untuk memperkecil kemungkinan risiko yang akan dihadapi dimasa akan datang.
Berdasarkan POJK nomor 65/POJK.03/2016 tentang penerapan manajemen risiko bagi Bank Umum Syariah dan unit usaha syariah,terdiri dari risiko:

Risiko Kredit(Pembiayaan)

Memberikan biaya atau dana kepada orang lain tentu harus dilandasi adanya kepercayaan baik dari Bank sebagai penyedia dana maupun dari pihak nasabah,karena jika tidak saling percaya,tentu akan muncul masalah dikemudia hari,Di Bank syariah sendiri jenis pembiayaan diantaranya,pembiyaan murabahah,mudhrabah,salam,istishna dll.

Risiko Pasar

Risiko yang dihadapi manakala portofolio bank syariah mengalami pergerakan kearah yang yang tidak menguntungkan.

Risiko Likuiditas

Likuiditas secara umum dapat diartikan sebagai kemamapuan Bank dalam menyediakan dana dengan secara cepat.Likuiditas berperan penting bagi bank untuk transaksi bisnisnya sehari-hari,misalnya untuk kebutuhan mendesak,memenuhi pinjaman dari para nsabah,dan mendapatkan kesempatan investasi yang menarik dan fleksibilitas.

Risiko Operasional

Risiko Operasional muncul akibat kurangnya pengawasan sistem informasi dan pengawasan internal,yang menimbulkan kerugian yang tidak diharpkan.Risiko ini mencakup kesalahan manusia,kegagalan sistem,tidakcukupan prosedur dan kontrol yang berpengarush pada operasional bank,dan adanya kejadian-kejadian eksternal yang berakibat pada operasional bank.

Risiko Hukum

Risiko hukum merupakan kesanggupan bank dalam menanggung kerugian sebagai akibat adanya tuntutan hukum, kelemahan dalam aspek legal atau yuridis. Kelemahan ini diakibatkan antara lain oleh ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan seperti tidak terpenuhinya syarat-syarat sahnya kontrak dan pengikatan agunan yang tidak sempurna.Risiko hukum ini tidak hanya dihadapi bank syariah saja,namun bank konvensional juga terkena bilamana ada hukum yang dialanggar.

Risiko Reputasi

Risiko ini timbul karena adanya penurunan tingkat kepercayaan baik dari nasabah,debitur,investor,regulator,bahkan masyarakat meskipun belum menjadi nasabah di banl tersebut,tentunya akan banyak pandagan atau publikasi negatif di masyarakat yang berpengaruh pada reputasi juga pada keuntungan bank tersebut.

Risiko Strategis

Risiko ini muncul akibat tidak tepatnya bank syariah dalam memilih lingkungan bisnis.Keputusan yang kurang tepat untuk mengadapi perubahan tekhnolgi,perubahan ekonomi secara makro, dinamika kompetisi dalam pasar maupun prubahan kebijakan otoritas terkait.

Risiko Kepatuhan

Risiko ini dapat terjadi manakala bank syariah melanggar peraturan perundang-undangan.Bank syariah dan bank konvensional sama-sama memiliki risiko kepatuhan ini,tentu saja pembedanya bank syariah berdsarkan prinsip syariah.

Risiko Imbal Hasil

Risiko imbal hasil ini muncul ketika bank mengalami perubahan dalam membayar baggi hasil kepada nasabah.Kondisi ini dipicu akibat kondisi ekonomi dimana imbal hasil nasabah pembiayaan mengami penurunan atau berkurang,sehingga imbal hasil tidak sesuai yang diharapkan oleh nasabah.

Risiko Investasi

Berdasarkan Kebijakan Dewan Syariah Nasional MUI(DSN MUI) perhitungan bagi hasil tidak hanya didasarkan pada jumlah pendapatan atau penjualan yang diperoleh debitur, tetapi setelah dikurangi dengan biaya pokoknya.

Perkembangan lembaga keuangan syariah memiliki trend positif,dimana banyaknya masyarakat yang mengenal bank syariah sebagai lembaga intermediasi,tentunya bank syariah akan langsung dengan bank konvensional yang sudah dikenal lebih dulu oleh masyarakat.Persaingan di pasar akan menentukan daya tahan bank syariah terhadap tantangan,peluang untuk lebih maju ataupun ancaman yang membuat gulung tikar tentu tidak akan bisa dihindari,tentu saja dengan adanya manajemen risiko yang baikk dan benar akan meminimalisir risiko yang akan dihadpi kedepannya,dengan harapan bank syariah bisa bertahan dan bisa bersaing di panggung lembaga keuangan sebagai intermediasi.

Artikel By : Candra Ali Kaputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *