Minim Risiko Nasabah Membeli Rumah Di KPR Syariah Dengan Akad Murabahah

2 min read

Persaingan bisnis properti di era kontemporer ini di Indonesia tumbuh persaingan ketat inovasi dan terobosan baru, terutama banyak nya bank bank di Indonesia menawarkan bisnis properti seperti KPR ataupun KPR Syariah. Namun ini kembali lagi ke peminatan dan daya saing menjangkau masyarakat dalam memperkanalkan dan menawarkan sistem bisnis properti atau pembelian rumah mau berbentuk sistem KPR biasa di Bank Konvensional, atau sebuah terobosan baru di dunia perbankan syariah yaitu ada nya KPR Syariah guna mengikuti sistem akad yang sesuai syariah.

Membahas persaiangan dunia properti antara sistem KPR Syariah & KPR Konvensional, perlu di ketahui bersama pengertian dan perbedaan nya. Karena pastinya jika namanya saja beda dan garis pembeda nya adalah syariah dan tidak alias konvensioanal sudah jelas bahwa skema dan penjelesan nya berbeda pula. Dan terkait akad di KPR syariah yang ditawarkan kepada nasabah, ada akad akad yang dimana di pakai untuk melakukan pembiayaan properti dengan sistem KPR Syariah, yaitu ada akad Murabahah, MMQ, Musyarakah Mutanaqisoh. Dan biasanya yang menjamur di kalangan kita banyak yang memilih akad murabahah. Melihat judul yang dibawakan, jelas bahwa di artikel ini akan lebih membahas terkait akad murabahah dimana murabahah secara ringkas adalah sistem jual beli sedankan jikalau musyarakah mutanaqisoh itu hak kepemilikan bertahap.

Akad Murabahah secara rinci adalah jual beli barang yang dimana asal harga nya ditambah keuntungan nya itu di sepakati kedua belah pihak. Dan transaksi dalam murabahah yaitu dengan menyebutkan harga pembelian di tambah keuntungan nya alias laba tersebut. Dan akad ini bisa di bilang sangat berpotensi di dunia perbankan syariah bahkan sampe menjadi suatu produk unggulan. Skema murabahah sendiri bisa dilakukan dengan barang di pesan, lalu bank yang membeli kepada supllyer kemudian bank menjual kembali ke nasabah yang akan membeli barang/rumah tersebut.

Contoh penerapan akad murabahah pada KPR Syariah.

Bank Syariah nya membeli rumah dan bank syariah menjual kembali ke nasabah dan kemudian bank pada tahap ini menambahkan keuntungan alias margin yang bakal di ambil sama bank. Misalnya rizal ingin membeli rumah seharga 500 jt kemudian rizal membayar dp 20 persen alias 100 juta ke pihak pengembang lalu sisanya rizal akan meminjam ke pihak bank dengan skema KPR Syariah akad murabahah. Dan setelah itu bank akan membeli rumah itu untuk rizal dan pastinya dengan keuntungan margin yang sudah di sepakati bersama, sebagai contoh kesepakatan nya menentukan margin 5 % dengan jangka tenor 15 tahun.

Kurang lebih seperti ini gambaran nya :
(harga beli bank x (untung bank x tenor) + harga beli bank) : bulan tenor
(400.000.000 x (5 Persen x 15) + 400.000.000) : 180 BLN
Total: Rp 3.163.200 / bulan.
Perbandingan KPR Syariah dengan KPR Konvensional

KPR Syariah
1. Akad Prinsip Murabahah, Musyarakah & MMQ
2. Cicilan Bersifat Tetap Hingga Akhir KPR
3. Tenor Jangka nya 5-15 Tahun
4. Tidak ada sanksi denda yang terlambat

KPR Konvensional
1. Menggunakan Skema Pinjaman dan Bunga
2. Cicilan fluktuatif menyesuaikan dengan BI rate & kebijakan bank
3. Waktu Tenor bisa lebih lama sampai 25 tahun
4. Terdapat denda untuk nasabah yang telat membayar angsuran

Dari segi perbandingan antara KPR Syariah dan Konvensional ada beberapa point yang dimana bisa kita perhatikan bahwa point tersebut memudahnkan nasabah dan juga tidak membuat susah pihak bank pada point tentang KPR Syariah. Dimana ada point dengan cicilan tetap hingga akhir KPR, jadi nasabah tidak perlu hawatir seandai nya kedepanya cash flow nasabah menurun atau tidak sesuai ekspetasi yang akhir nya menjadikan susah bayar cicilan.
Dan di point sanksi denda terlambat juga tidak ada pada KPR Syariah, Nasabah jadi lebih tenang walau ini juga bukan point yang bisa di remehkan, dikarenakan biasanya jika nasabah sering tertunda nya bayar cicilan dalam pelunasan hutang akan berpengaruh pada track record nasabah yang di lacak di BI Checking, sehingga menimbulkan efek samping yang tidak baik jikalau nasabah ingin mengajukan pinjaman ke pihak bank manapun, dikarenakan terlacak nya track record sering menunda bayaran.

Dan jika di bandingkan dengan KPR Konvensional masih lebih menguntungkan bagi nasabah jika memilih KPR Syariah, misal seperti poin ada denda bagi nasabah yang terlambat, itu akan menambah beban lagi ditambah ada nya skema pinjaman bunga. Seandainya suatu waktu nasabah ada kesulitan membayar ke pihak bank dengan menggunakan KPR Konvensional dan tidak mampu membayar akhir nya mendapat denda dari bank karena keterlambatan membayar angsuran. Dan tidak ada yang bisa menjamin juga pendapatan seseorang apakah selalu stabil bisa membayar ataupun blm bisa membayar pada saat jatuh tempo bayar cicilan.

Kesimpulan nya dari banyak nya point yang berbeda antara KPR Syariah dan KPR Konvonsional ada poin poin penting yang bisa dilihat secara tidak langsung meringankan risiko serta beban nasabah. Dan karena ada poin yang menekankan meringankan nasabah bearti juga risiko nasabah dalam melakukan KPR Syariah menjadi Sedikit.

Artikel By : Rizal Aziz Alfaridzi 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *