Pengertian Dan Pandangan Islam Terhadap Manajemen Risiko

2 min read

Manajemen Risiko adalah segala sesuatu yang terjadi di dalam suatu masyarakat,organisasi ataupun perusahaan.bahkan dalam praktiknya, manajemen risiko ini bisa berhubungan erat dengan fungsi-fungsi yang ada di perusahaan baik itu dari sisi pemasaran,keuangan,ataupun produksinya.Berdasarkan hal tersebut maka islam menjelaskan bahwa manajemen itu adalah suatu usaha untuk mencapai tujuan dari perusahaan itu sendiri yakni dengan melakukan fungsi-fungsi manajemen dalam mengatasi risiko, yang mencakup perencanaan,pengorganisasian,pengarahan dan pengendalian supaya tercapainya suatu aktifitas dan juga efisiensi yang sesuai dengan ajaran islam.

Pandangan islam terhadap manajemen risiko

Dalam islam sendiri terdapat dua kaidah ajaran islam yaitu kaidah ibadah dan kaidah muamalah, dalam kaidah ibadah menjelaskan bahwa “jangan kerjakan kecuali ada perintah”. Sedangkan dalam kaidah muamalah menjelaskan bahwa “kaidah itu pada dasarnya adalah halal dan di perbolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya”. Maka dari itu islam memandang bahwasannya dalam mengelola risiko suatu organisasi ataupun yang lain itu dapat difahami atau dikaji dari kisahnya Nabi yusuf dalam mentakwilkan mimpinya sang raja pada masa itu, yang dimana mimpi ini telah termaktub dalam Al-Qur’an surat yusuf ayat 43 yang artinya : “Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka lainnya): sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi-sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh butir gandum yang hijau dan tujuh butir lainnya yang kering.hai orang-orang yang terkemuka: terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimp”i. (QS.Yusuf : 43).

Berdasarkan kisah yang telah di gambarkan dalam Al-Qur’an tersebut tersebut,dapat di fahami bahwa pada tujuh tahun kedua akan timbul kekeringan yang dahsyat. Dan ini adalah suatu risiko yang menimpa negri yusuf tersebut. Akan tetapi dengan adanya mimpi sang raja lalu di takwilkan oleh yusuf kemudian yusuf telah melakukan suatu pengukuran dan juga pengendalian atas risiko yang akan terjadi pada tujuh tahun kedua tersebut. Hal ini di lakukan yusuf dengan memberikan saran kepada rakyat seluruh negri untuk menyimpan sebagian hasil panennnya terhadap panenan yang terjadi pada tujuh tahun pertama demi menghadapi paceklik pada tujuh tahun berikutnya. Dengan itu maka terhindarlah bahaya kelaparan yang dapat mengancam negri yusuf itu. Maka sungguh suatu pengelolaan risiko yang sempurna, dimana prosess manajemen risiko yang diterapkan yusuf melalui pemehaman risiko,evaluasi, pengukuran dan juga pengelolaan risiko.

Dalam ayat lain juga di jelaskan hal yang berkena’an dengan penempatan investasi dan juga manajemen risiko dalam pertimbangan yang penting, yakni surat Luqman : 34 yang artinya : “sesungguhnya Allah,hanya pada sisinya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat dan dialah yang menurunkan hujan,dan mengetahui apa yang ada dalam rahim,dan tiada seorangpun yang dapat mengetahu (dengan pasti) apa yang akan di usahakannya besok,dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati,sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengena” (QS Luqman : 34). Dalam ayat ini Allah Swt menyatakan bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa mengetahui dengan pasti apa yang akan di usahakannya besok ataupun yang akan di perolehnya, dimana melalui ajaran itu seluruh manusia di perintahkan untuk melakukan investasi sebagai bekal dunia dan juga bekal akhirat.

Cara mengelola risiko dalam islam

Adapun dalam mengelola risiko,ada beberapa cara diantaranya adalah : Pertama menghindari risiko,satu satunya cara dalam mengendalikan suatu risiko murni adalah menjauhi harta,orang, atau suatu kegiatan dari exsposure terhadap risiko dan melalui langkah menolak memiliki,menerima, atau bahkan melakukan acara meskipun hanya untuk sementara dan menyerahkan kembali risiko yang terlanjur diterima atau segera menghentikan kegiatan begitu di ketahui terdapat risiko.

Kedua mengendalikan kerugian, cara yang di lakukan untuk mengendalikan suatu kerugian yaitu dengan berusaha menguraikan dan mengurangi untuk terjadinya kerugian.

Ketiga Pemisahan, agar risiko dapat berkurang maka dilakukan pemisahan yakni menyebabkan harta yang menghadapi risiko yang sama, dan menggantikan penerapan dalan suatu lokasi.

Keempat kombinasi atau pooling, yaitu banyaknya exsposure unit dalam batas kendali suatu perusahaan yang bersangkutan, yang bertujuan agar kerugian yang akan di alami lebih bisa di ramalkan, seperti halnya perusahaan angkutan yang memperbanyak jumlah truknya,ataupun satu perusahaan marger dengan perusahaan lain.

Kelima memindahkan risiko, yang mana ini bisa dilakukan melalui 3 cara yaitu : harta milik,pemindahan risiko,dan risk financing transfer yang dapat menciptakan suatu lose exsposure untuk transferee.

Keenam menanggung risiko sendiri, pada dasarnya hal ini dilakukan karena adanya angggapan bahwa kemungkinan risiko tersebut terjadi adalah sangat kecil, dan kalaupun terjadi, maka kerugian financial yang di alami tidak berpengaruh terhadap kegiatan yang dilakukan, seperti halnya ketika terjadi kerugian atau bencana yang akan mengakibatkan beban yang berat bagi keuangan perusahaan, perusahaan yang memiliki untuk mengelola risiko itu akan membentuk dana cadangan (funding) guna menghadapi kerugian yang harus di hadapi di masa yang akan datang. Demikianlah penjelasan terkait manajemen risiko dalam pandangan islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *