Pengertian, Fungsi Dan Produk-Produk Bank Syariah

2 min read

Pengertian Bank Syariah

Yang dimaksud dengan bank syariah adalah badan yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk pembiayaan, atau dengan kata lain, melakukan fungsi intermediasi keuangan, dan melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip syariah atau hukum syariah. Prinsip-prinsip Majelis Ulima Indonesia adalah keadilan dan keseimbangan (‘adl wa tawazun), bunga (maslahah), universalisme (alam), dan tidak termasuk gharar, maysir, riba, benda-benda yang tidak adil dan ilegal.

Pasal 2 UU Perbankan Syariah mengatur bahwa perbankan syariah didasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu prinsip hukum Syariah, demokrasi ekonomi, dan prinsip kehatihatian. Dalam penafsiran UU Perbankan Syariah dijelaskan bahwa kegiatan komersial berdasarkan prinsip-prinsip hukum Syariah adalah kegiatan komersial yang tidak termasuk unsur riba, gharar, maysir, haram dan tidak adil.

Yang dimaksud dengan “demokrasi ekonomi” adalah kegiatan ekonomi Islam yang meliputi nilai-nilai keadilan, persatuan, kewajaran, dan kepentingan. Yang dimaksud dengan “asas kehati-hatian” mengacu pada pedoman pengelolaan bank yang harus diikuti untuk mewujudkan industri perbankan yang sehat, kuat, dan efisien sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 3 UU Perbankan Syariah menyatakan:
“Bank Syariah bertujuan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan nasional untuk meningkatkan keadilan, persatuan dan pemerataan kesejahteraan rakyat.”

Fungsi Bank Syariah

Bank syariah memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi komersial(bisnis)dan fungsi sosial. Fungsi komersial/bisnis bank syariah adalah menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya dalam bentuk pembiayaan. Sementara itu, fungsi sosial bank syariah adalah menghimpun dan menyalurkan dana ZISWAF. Sebagaimana diatur dalam Pasal 4 UU Perbankan Syariah, Bank Syariah dan UUS wajib menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat.

Bank syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi sosial berupa lembaga baitul mal, yaitu menerima dana dari zakat, infaq, ams, hibah atau dana sosial lainnya dan mengarahkannya kepada organisasi pengelola zakat. Bank syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf tunai dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan keinginan para donatur wakaf (wakif). Melaksanakan fungsi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Produk-Produk Bank Syariah

Para pelaku bisnis dapat menggunakan berbagai produk perbankan syariah, yaitu:

• Tabungan Syariah

Tabungan adalah simpanan sejumlah dana tertentu. Deposito ini dapat ditarik kapan saja. Lokasi penarikan juga dapat bervariasi. Berangkat dari ATM dan langsung ke bank. Perbedaannya terletak pada kata Syariah. Tabungan syariah akrab dengan istilah wadi’ah. Dengan kata lain, menabung tidak akan menghasilkan bunga karena merupakan simpanan.

• Deposito Syariah

Investasi yang sangat diidamkan masyarakat Indonesia saat ini adalah deposito. Karena ini adalah tabungan jangka panjang. Untuk penarikan tidak bisa dilakukan sewaktu-waktu. Ada waktu yang disepakati antara bank dan Anda. Namun, simpanan syariah menggunakan akad mudharabah. Artinya, sistem bagi hasil antara nasabah dan bank. Yang menarik, rasio simpanan syariah ini adalah 60 berbanding 40. Semakin besar keuntungan bank maka semakin besar pula keuntungan nasabah.

• Gadai Syariah

Jika menggunakan gadai syariah, keuntungannya adalah bank dapat memberikan pinjaman kepada nasabah dengan jaminan properti. Properti itu berharga dan bisa dijual. Uniknya, meminjam uang tidak berdasarkan bunga. Jika nasabah tidak melunasi uangnya pada saat jatuh tempo, maka barang tersebut akan dijadikan jaminan.

• Giro Syariah

Secara umum giro berarti simpanan yang dapat ditarik sewaktu-waktu dengan menggunakan cek, bilyet giro, atau cara pembukuan. giro syariah berarti giro, yang didasarkan pada prinsip-prinsip hukum Syariah. Komisi Hukum Syariah Nasional mengeluarkan fatwa yang menetapkan bahwa giro yang disahkan oleh hukum Syariah adalah giro berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah. Giro syariah dengan akad mudharabah adalah sebagai berikut:

1. Nasabah sebagai shahibul mal (pemilik dana), dan bank sebagai mudharib (pengelola dana)
2. Bank dapat menjalankan berbagai usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk mudharabah dengan pihak lain.
3. Bagi hasil harus ditentukan dalam bentuk proporsional dan ditentukan dalam kontrak pembukaan rekening.
4. Karena bank mudharib menutupi biaya operasional giro, maka merupakan hak mereka untuk menggunakan margin keuntungan.
5. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
6. Bank tidak boleh mengurangi nisbah keuntungan tanpa persetujuan yang bersangkutan.
Giro syariah dengan akad wadiah mengikuti aturan sebagai berikut:
1. Bersifat deposito.
2. Deposit dapat dilakukan kapan saja (tersedia on call).
3. Tidak ada kompensasi yang diperlukan, kecuali itu adalah hadiah sukarela (athaya) dari bank.

• Pembiayaan Syariah

Yang dimaksud dengan pembiayaan syariah adalah sewa atau leasing. Artinya, untuk menyediakan barang modal dengan atau tanpa opsi sewa. Hampir sama dengan gadai syariah, hukum syariah memberikan pembiayaan dalam jangka waktu tertentu. Dan, pembiayaan rutin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *