Pengertian Syuf’ah Lengkap Dengan Rukun Dan Syaratnya

1 min read

Syuf’ah berasal dari kata syaf’ yang berarti peleburan, yang berarti penggabungan kepemilikan melalui akad jual beli. Sedangkan secara terminologi, syuf’ah adalah akad dengan tujuan mengalihkan harta kepada hak mitra syirkah berdasarkan harga beli untuk mencegah kerugian.

Landasan Syariah Syuf’ah

Fuqaha setuju bahwa shufah adalah untuk keuntungan. Praktek shufah hukum diperbolehkan, bahkan ada hadits. Hal ini didasarkan pada hadits dan ijma.

Imam Buhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan shufah di atas tanah yang tidak terbagi. Ketika batas-batas telah ditentukan dan jalan telah diatur, tidak akan ada lagi shufah.

Dia berkata dari Jabir bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang memiliki pohon kurma atau tanah, jangan menjualnya sebelum menawarkannya kepada sekutunya.
Dia berkata dari Abu rafi bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Sekutu memiliki kekuatan lebih karena kedekatannya

Hal-Hal Yang Terjadi Syuf’ah Padanya

Dia berkata dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhuma: Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memutuskan untuk shufah semua hal yang tidak dibagikan. Jika dibatasi dan aturannya diatur, maka shufah tidak berlaku.
Syuf’ah Dengan Tetangga Apabila Ada Hak Bersama Antar Keduanya

Jika ada hak bersama di antara keduanya, maka bergaullah dengan tetangga. Jika ada hak bersama berupa jalan atau air antara dua orang yang bertetangga, maka masing-masing masih memiliki shufah. Salah satunya tidak boleh dijual sampai ia terlebih dahulu mendapat izin dari tetangganya, jika ia menjual tanpa izinnya, maka ia (tetangga itu) lebih berhak untuk menjual barang tersebut.

Rukun-Rukun Dan Syarat-Syarat Syuf’ah

1. Barang yang diambil (sebagian yang sudah diambil), asalkan barang tidak bergerak. Adapun barang bergerak adalah barang bergerak, tidak berlaku untuk shufah, tetapi mengikuti barang yang sebenarnya.

2. Orang yang mengambil barang (partner lama); ditentukan untuk orang yang tidak mematuhi hukum dari zat yang diambil, dan memiliki bagiannya. Oleh karena itu, menurut Mazhab Syafii, tetangga dan mereka yang mengikuti hukum Syariah tentang kesejahteraan dan mereka yang berhak memiliki harta wakaf tidak berhak menerima Shufah.

3. Yang dipaksa (partner baru); syaratnya adalah keadaan barang itu dimiliki dengan cara tukar menukar, bukan dengan cara pewarisan atau wasiat atau pemberian.

Syarat-syarat Asy Syuf’ah

Komoditas dalam syuf’ah adalah real estate, seperti tanah, rumah, dan barang-barang terkait yang permanen, seperti tanaman, bangunan, pintu, atap rumah, dan semua barang yang termasuk dalam penjualan pada saat pelepasan.

Menurut Hadits Jabir r.a : “Rasulullah mendirikan syuf’ah untuk berbagai barang syirkah (perusahaan) yang tidak dapat dibagi, seperti rumah atau kebun.”

Hikmah Asy-Syuf’ah

Islam menetapkan bahwa Shuf’ah adalah untuk mencegah bahaya dan menghindari permusuhan. Karena Syafii membeli kepemilikan orang lain (pihak lain) akan dapat mencegah kemungkinan merugikan orang lain yang baru saja ikut. Imam Syafi’i memilih pandangan bahwa madharat (bahaya) berarti hilangnya pembagian biaya, risiko partisipasi partai baru, dll. Beberapa sarjana juga percaya bahwa tujuan dari cedera adalah untuk risiko persekutuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *