Pentingnya Kita Memahami Akad Hibah

1 min read

Pengertian Akad dan Dalil Hibah

Akad hibah adalah akad yang sangat penting dalam implementasi transaksi keuangan kontemporer. Praktik ini sering ditemukan di Industri keuangan Non Bank (IKNB), pada Perasuransian Syariah dan Dana Pensiun Syariah.

Pengertian dan Dalil Hibah.

Menurut Taqiy al-Din Abi Bakr dalam Kifayat al-Akhyar fi Hill Ghayat al-Ikhtishar menjelaskan bahwa arti hibah secara bahasa adalah AnNihlah, yaitu pemberian tanpa Imbalan (al-‘athiyah bi la ‘iwadh). Sedangkan secara istilah, menurut Wahbah Zuhaily dalam kitab al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh (Fikih Mu’amalah Maliyyah Akad Tabarru’ 2019) adalah

عقد يفيد التمليك بلا عواض حال الحياة تطوعا

“ akad pemindahan kepemilikan harta tanpa imbalan pada saat yang bersangkutan hidup, sunah (secara hukum). ”

 

Dari definisi diatas ada 4 hal yang bisa di diskusikan :

  1. Kepindahan Kepemilikan Objek (‘aqd yufid al-tamlik).

Merupakan akad yang menyebabkan perpindahan kepemilikan objeknya dari milik pemberi menjadi milik penerima. Dengan demikian, inilah yang membedakan antara akad hibah dan akad al-ariyah (pinjam barang), yaitu akad yang menyebabkan pindahnya manfaat barang (kepemilikan barang tidak berpindah).

  1. Imbalan (‘Iwadh).

Inilah yang menunjukkan perbedaan antara akad Hibab dan akad bisnis (mu’awadhat) yang ditandai dengan pertukaran. Dalam jual beli tukar menukar barang dengan harga, atau dalam akad Ijarah pertukaran antara jasa/ manfaat barang dengan sewa/ upah. Sedangkan dalam akad hibah yang mana termasuk dalam kategori akad tabarru’, dimana pembeli tidak mendapatkan imbalan dari pihak penerima.

  1. Waktu(hal al-hayat).

Akad ini dilakukan pada saat pemberi dan penerima masih hidup. Inilah yang membedakan antara akad hibad dan akad wasiat. Akad hibah diserahkan oleh pemberi masih hidup, sedangkan akad wasiat pemberian diberikan pada saat pemberi meninggal.

  1. Hukum (tathawwu’). Hukum akan akad ini adalah sunah. Pernyataan tersebut agar membedakan akad hibah dengan zakat, membayar hutang, serta menafkahi keluarga. Hukum melaksanakan hibah adalah sunnah sedangkan menunaikan zakat, membayar hutang dan menafkahi keluarga adalah wajib.

Dasar hukum atas kebolehan akan akad hibah ini terdapat dalam  sejumlah ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad Saw, antara Lain :

  1. An-Nisa : 4, Allah Berfirman :

وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَٰتِهِنَّ نِحۡلَةٗۚ فَإِن طِبۡنَ لَكُمۡ عَن شَيۡءٖ مِّنۡهُ نَفۡسٗا فَكُلُوهُ هَنِيٓئًا مَّرِيٓئًا

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.

 

  1. Hadits Dari Abu Hurairah, Abd Ibn Umar, dan Aisyah yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. Bersadba:

تهادوا تحابوا

Saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.

Ali Fikri menjelaskan dalam (Fikih Mu’amalah Maliyyah Akad Tabarru’) bahwa hibah dan hadiah melahirkan rasa saling mencintai dalam hati serta dapat menghilangkan dendam dalam permusuhan.

Rukun Dan Syarat Hibah

Ulama jumhur berbeda pendapat dalam menentukan rukun dan syarat pada akad hibah. Jumhur ulama berpendapat bahwa rukun Hibah adalah

  1. Wahib (Pemberi).
  2. Mauhub lah (penerima).
  3. Mauhub (Objek yang diberikan).
  4. Ijab dan Qabul (akad Transaksi).

Berbeda dengan abu Hanifah yang menjelaskan bahwa akad Hibah hanya satu yaitu akadnya.

Sementara untuk syarat pada akad ini adalah Benda yang diberikan harus dikuasai (al-qabd) oleh penerima, karena hibah ini termasuk dalam Kategori akad Tabarru’ (Sosial).

 

Semoga Bermanfaat bagi kita semua…

 

Oleh: Nurhamida Nasution,Mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *