“Pro-Kontra Pembelajaran Jarak Jauh_Dimasa Pandemi”

1 min read

Dunia Pendidikan dan kebudayaan saat ini sedang menghadapi tantangan akibat pandemic covid-19. Penerapan protocol Kesehatan membuat perubahan modal pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh. Keterbatasan ekonomi masyarakat, teknologi, infrastruktur, modal pengajaran hingga anggaran Pendidikan menjadi tantangan dunia Pendidikan Indonesia saat ini. Namun di setiap struktur tatanan baru akan menimbulkan hambatan.

Di Indonesia sendiri semua sector kehidupan masyarakat terdampak oleh adanya covid-19, salah satunya adalah di sector Pendidikan yang mengakibatkan semua sekolah dari paud hingga SMA dan perguruan tinggi lainnya di tutup untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Sehingga formula baru dalam system Pendidikan demi terwujudnya cita cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Akibat di tutupnya sekolah memaksa pemerintah untuk menjalankan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) guna mengurangi penyebaran Covid-19 dan juga Pendidikan tetap berjalan. Metode PJJ ini banyak sekali menimbulkan berbagai macam pro dan kontra dari berbagai pihak. Banyak yang mengeluh akan susahnya system PJJ ini dan tidak sedikit pula menerima system ini dengan sukacita.

Pendidikan di masa pandemi yang mana semua pembelajaran dilakukan secara jarak jauh dan Daring dengan memanfaatkan smartphone masing-masing pelajar atau mahasiswa. Dari tingkat Pendidikan SD sampai Perkuliahan semua memakai pembelajaran online/daring, namun yang menjadi sorotan ialah pembelajaran di tingkatan SD yang di mana perlunya pendampingan ekstra dari orangtua, dikarenakan untuk mengoperasikan handphone mereka harus menuntun dan mengarahkan anaknya untuk mengerjakan tugas dan materi yang diberikan oleh guru.

Selain itu, banyak siswa yang mengekspresi perasaan kejenuhan dan kebosanan yang disebabkan oleh keinginan untuk berinteraksi dengan komunitas belajar di sekolah, di antaranya dituangkan dalam bentuk nyanyian, puisi dan video berdurasi pendek untuk menyampaikan perasaan kerinduan mereka untuk belajar dan berinteraksi Kembali di sekolah.

Kondisi pembelajaran pada saat ini harus dapat dimanfaatkan dengan perubahan pola belajar, pola berfikir, pola interaksi sesama yang lebih bermakna sehingga ketidak nyamanan dalam menyikapi masa covid19 dapat dimaksimalkan dengan kegiatan yang mengundang produktivitas. Perasaan cemas dan takut diminimalisir dengan optimis bahwa seluruh aktivitas tetap berlangsung dengan protocol Kesehatan tatanan baru(New Normal), khususnya dalam segmen penyelenggaraan Pendidikan, baik pada Pendidikan pra sekolah hingga Pendidikan tinggi.

Namun untuk melakukan semua itu kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) Bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Kementerian Agama(Kemenag), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Komisi X DPR, dan itu hanya dilakukan untuk kota-kota yang masuk dalam zona orange.

Ketika kita berbicara tentang kualitas Pendidikan sekalipun sarana dan prasarana menjadi bahan pokok pembahasan akan pentingnya kualitas Pendidikan pada masa pandemic ini tentu saja diperlakukan beberapa aspek pendukung standar proses Pendidikan.

Salah satu penyokong dalam proses kegiatan belajar mengajar di masa pandemic ini adalah ketersediaan teknologi yang bisa dimanfaatkan oleh guru dan murid.

 

Oleh: Ilham Maulana Chusein Mahasiswa STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *