Resiko Pembiayaan Bank Islam

2 min read

Dalam kehidupan kita tidak lepas dengan interaksi sosial, yang memberikan kita manfaat dan Risiko dalam segala hal dan bentuknya. Manfaat dan Risiko adalah suatu kesatuan yang tidak di pisahkan, karena sudah menjadi Hukum dalam yang ditentukan oleh Tuhan Semesta Alam. Ada baik dan buruk, ada hitam dan putih dan sebagainya.

Risiko kerap kali dianggap hal yang negatif. Maka tidak sedikit orang yang enggan berhadapan dengan Risiko. Padahal faktanya adalah Di Dunia bisnis, tepatnya di Investasi kerap kali ada Istilah “High Risk-High Return” yaitu semakin besar Risiko semakin besar pula manfaat atau hasil yang diraih.

Risiko terjadi kepada siapapun dan lembaga manapun. Tak luput pula, Bank Islam di Indonesia yang notabennya adalah bank yang lebih baru ketimpang Kompotitornya yaitu Bank Konvensional. Sebagaiamana Fungsi Bank adalah Memilik Peran Sentral sebagai Pendana dan Pembiaya dari setiap kegiatan Bisnis dan Jasa yang ada di sebuah Negara. Banyak Para Pelaku Bisnis dan Jasa yang datang ke bank untuk bekerja sama dari Sektor Pembiayaan. Maka tak Luput pula, Suatu Bank Islam di Indonesia, Memberikan Pembiayaan ke Sektor Usaha dan Jasa untuk Perorangan,Usaha Kecil, Perseroan atau Perusahaan dan Lainnya.

Dalam perjalan Pembiayaan pasti akan menemukan lubang ataupun kerikil yang menghambat. Dengan faktor internal atau external, disengaja atau tidak semua itu mungkin terjadi. Lalu Bagaimanakah Sebuah Bank Islam Mengatasi Risiko-Risiko yang terjadi pada Pembiayaan?

Apa itu Risiko Pembiayaan?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, maka harus kita ketahui bahwa Risiko ialah suatu kerugian yang ada karena peristiwa tertentu, misalnya Jatuh dari Sepeda Motor, adalah Risiko Setiap Pengendara yang tidak berhati-hati, atau taat peraturan ataupun bencana yang tidak terduga. Dalam Hal ini, Contohnya adalah Bank Islam Terhambat Pendapatannya karena terjadi kegagalan Pemembuhan Kewajiban Seorang Debitur atau Bencana yang tak terduga.
Maka dengan Hal ini Management Risiko sangatlah penitng dan Hadir untuk Menjadi Sebuah Rumus, Metode atau Solusi agar Risiko-Risiko tersebut dapat diindentifikasi, diukur dan dikendalikan.

Risiko Pembiayaan Sendiri adalah Risiko yang timbul karena nasabah atau pihak lain tidak mampu menunaikan kewajiban terhadap bank. Risiko ini rentan terjadi karena fungsi sentral bang terhadap pihak-pihak Bisnis dan Jasa yang memerlukan pendanaan.

Apa Saja Pembiayaan Di Bank Islam?

Bank islam, memiliki sumber dana dari Dana Pihak Ketiga yaitu terbagi menjadi 3 kategori

1. Akad Wadiah Yad Amanah, adalah Titipan Murni yang tidak boleh dimanfaatkan.
2. Akad Wadiah Yad Dhamanah adalah bentuk titipan yang Boleh digunakan sebagai akad Pembiayaan seperti Qardh, Murabahah, Salam dan Ijarah.
3. Akad Mudharabah dan Musyarkah adalah Sumber dana untuk Ekuitas, sehingga terjadi Risiko Investasi bukan Risiko Pembiayaan.

Untuk Target Pembiayaan Dibagi Menjadi 2 Karakteristik, yang menjadi bahan pertimbangan suatu Bank Islam.

1. UMKM atau Usaha Mikro Kecil Menengah yaitu bisnis Yang rentan memiliki informasi bisnis dengan laporan yang belum Standar dan tanpa di audit. Juga, usaha yang baru dengan minim teknologi dan sumber daya manusianya serta aset yang belum banyak.

2. Korporasi dan Ritel yaitu bisni yang memiliki informasi yang standar dan Diaudit. Aset yang jelas, penguasaan teknologi dan pemberdayaan SDM yang memadai.

Dari segi pembiayaan sendiri dibagi menjadi 2 Jenis Akad Pembiayaan

1. Berbasis Hutang
a. Hutang Murni yaitu dengan Akad Qardh Hasan (Pembiayaan Sosial tanpa ada tambahan).
b. Hutang Jual Beli yaitu dengan Akad Murabahah, Salam, Muajjal dan Ijarah.

2. Berbasis Ekuitas yaitu dengan Akad Mudharabah dan Musyarakah, tidak mengalami Risiko pembiayaan melainkan Risiko Investasi. Karena Pada kedua akad tersebut, Bank Berperah Langsung Sebagai Shohibul Maal atau Mitra Aktif sehingga dampak yang timbul bukan terhadapa pembiayaannya melainkan kepada unsur modal (Ekuitas).

Proses Bisnis Pembiayaan Bank Islam

Proses Bisnis Pembiayaan Bank Islam dibagi menjadi 3 Periode Waku:

Periode Waktu Risiko Mitigasi Risiko
Waktu Kontrak Minimnya Informasi Terkait Debitur dan Usahanya, Keburaman dan Ketidakseimbangan Suatu Informasi Memberikan Prosedur dan Seleksi yang ketat Terhadap:

1.      Akad Pembiayaan;

2.      Limit Pembiayaan;

3.      Jangka Waktu Pembiayaan;

4.      Imbal Hasil.

 

Tengah Kontrak Kondisi Lingkungan; Keburaman Informasi; Tingkat Detail Data (Granuality); Sistem Pengawasan dan Monitoring yang baik
Akhir Kontrak Kondisi Lingkungan; Keburaman Informasi; Moral Hazard (Ketidakmampuan bank Mengungkapkan Nasabah Tidak bisa/Mau Menunaikan Kewajibannya) Restrutrisasi:

1.      Memberikan Kelonggaran Waktu

2.      Write Off, Penghapusan Buku

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *