Risiko Likuiditas Bank Syariah

1 min read

Secara simple Bank yaitu Lembaga atau badan yang menyimpan uang Masyarakat untuk Dihimpun dan Disalurkan demi menggerakan roda perekonomian suaru daerah ataupun negara sekalipun. Saat ini bank bukan hal yang tabu atau mustahil keberadaanya, Bahkan setiap kita jalan atau berkunjung pasti ada suatu bank di daerah tersebut. Di dunia Bank mempunyai peran yang sangat Sentral karena sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat.

Dengan demikian, bank sudah menjadi tiang yang tak tergantikan perannya di sosial ekonomi. Sejarah Bank di Indonesia dimulai pada zaman Kolonial Hindia Belanda yaitu Bank Courant en bank Van leening, tahun 1746. Kemudian pada tahun 1828 berdirilah De Javasche Bank sebagai cikal bakal Bank Indonesia nantinya.

Dari segi pemerintah Indonesia sendiri resmi mendirikan PT Bank negara Indonesia pada 5 Juli 1946. Sedangkan, bank syariah pertama berdiri pada 1 November 1991 yaitu PT Bank Muamalat Indonesia.

Semua Bank, entah itu konvensional ataupun syariah tidak luput dengan kegiatan sebagai penghimpun dan penyalur dana karena dengan ini, bank bisa menjalankan roda ekonomi dari berbagai sektor. Namun dengan parameter inipun, dapat dinilai seberapa bagusnya suatu bank, dalam kegiatan penghimpunan dana masyarakat atau kegiatan penyaluran dana tersebut? Dengan demikian, hal tersebut dapat meningkatkan atau menurunkan Trust yang ada di hati masyarakat.

Apa Itu Risiko Likuiditas Bank?

Yaitu permasalahan tetap yang ada di suatu bank, seolah-olah bayangan yang terus mengikuti. Bahkan banyak sekali jenis dari suku ini seperti ketidak sesuaian atau pembiayaan jangka panjang yang di cover oleh pendanaan jangka pendek.

Menurut Bank Indonesia, Risiko Likuiditas adalah risiko dari Dampak Bank yang tidak mampu memenuhi kewajiban (likuiditas) dengan pendanaan yang ada (Kas). Dimana nasabah dengan mudah diberikan pelayan oleh bank dalam menarik dananya ketika dibutuhkan.

Agar tidak mengganggu Aktifitas bank dalam Pengelolaan Dana yang ada, maka Bank haru mencari jalan keluar dengan membangung konsep yang bagus dan sistem yang paten agar resiko ini bisa di kendalikan sehingga Trust(Kepercayaan) masyarakat akan terus terjaga.

Beberapa Faktor risiko likuiditas

1. Nasabah Menarik Simpanan dengan jumlah Besar.

Yaitu dimana nasabah ingin mengambil sejumlah simpanannya namun bank belum mempunyai sumber pendanaan atau arus kas yang cepat atau bank tidak mempunyai aset yang cepat dicairkan.
Dengan demikian dapat mendorong resiko ini semakin besar dan melebar, jika bank belum mempunyai pos-pos dalam sumber dana tadi.

2. Pembiayaan besar di saat pendanaan belum cukup.

Itu uang sudah berkomitmen kepada debitur untuk pembiayaan namun sumber dana belum mencukupi pembiayaan tersebut. Dan inilah pemicu resiko likuiditas ini secara masif Karena pada saat nasabah ingin menarik uangnya namun uang tersebut diperuntukkan pembiayaan yang.

3. Penurunan aset pemicu penarikan dana nasabah.

Sebagaimana yang sudah disampaikan bahwa bank tidak lepas dengan trust (kepercayaan). Maka dari itu, ketika terkikisnya kepercayaan tersebut dengan hal-hal yang tidak lumrah atau semestinya, dengan sendirinya mereka akan memutuskan atau mengambil asetnya pada bank tersebut.

Mitigasi risiko likuiditas.

1. Menjaga tingkat likuiditas yang optimal.

Bank harus menganalisa kapan nasabah akan mengambil dananya dan mengklasifikasi sumber tersebut misalnya penarikan deposito yang bisa diketahui jatuh temponya dengan demikian bank dapat mempersiapkan nya atau pun menawarkan perpanjangan masa investasinya.

2. Berlaku risk and return trade off.

Mempunyai Nilai Positif likuiditas dengan posisi aman dan stabil namun profitabilitasnya rendah.
Mempunyai nilai negatif likuiditas dengan posisi rendah namun profitabilitas meningkat.
Inilah kedua kemungkinan yang harus dipilih atau di mana ge sehingga kita memilih likuiditas atau profitabilitas.

3. Proses mitigasi dapat dimulai dari pengukuran likuiditas.

Seperti menganalisa dan mendata kas masuk dan keluar juga fungsi dari pembiayaan sesuai dengan kemampuan bank.

Artikel By : Nurhamida Nasution STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *