Risiko Pembiayaan di Bank Islam

2 min read

Seiring berjalannya waktu lembaga keuangan syariah di zaman sekarang ini menjadi semakin berkembang, perkembangan syariah yang semakin pesat ini mewujudkan tanggapan positif terhadap masyarakat terhadap produk syariah, terlebih di indonesia yang mayoritas nya adalah beragama islam. Perkembangan di dunia perbakan yang dimulai dari teknologi maupun informasi akan sangat bergantung pada kemampuan managemen dalam mengelola segala risiko yang timbul. Dengan semakin berkembang nya teknologi serta Informasi pada zaman sekarang ini, menuntut perbankan syariah agar menyesuaikan diri dengan bank konvensional sebagai pesaing langsung nya yang sudah melalui berbagai aspek risiko.

Begitu pun pula dalam menjalankan sebuah bisnis baik bisnis yang masih baru berjalan maupun yang sudah berjalan lama pasti ada yang namanya sebuah risiko. Risiko yang akan dialami oleh pihak yang menjalankan suatu bisnis biasanya berbanding sama besar dengan nilai keuntungan yang akan didapatkan. Oleh karena itu, biasanya pihak yang ingin mulai berbisnis memperhitungkan tingkat risiko yang akan dihadapi. Banyak di antara yang menjalankan bisnisnya membuat strategi agar meminimalisir adanya risiko yang sering terjadi.

Dan dalam menjalankan sebuah bisnis harus memerlukan pembiayaan yang cukup sehingga proses dalam menjalankan sebuah bisnisnya akan berjalan lancar. Namun tak sedikit pembiayaan mengalami Risiko gagal bayar yang mana mengacu pada potensi kerugian yang dihadapi bank ketika pembiayaan yang diberikannya macet. Dalam Peraturan OJK No.65/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi BUS & UUS dan Peraturan OJK No. 23 /POJK.03/2018 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi BPRS didalam nya mencakup risiko yang diatur, seperti: Kredit (Pembiayaan), Pasar, Likuiditas, Operasional, Kepatuhan, Hukum, Reputasi, Stratejik, Investasi dan Risiko Imbal Hasil.

Menurut OJK, risiko pembiayaan adalah akibat dari kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati, termasuk risiko kredit akibat kegagalan debitur, risiko konsentrasi kredit, counterparty credit risk dan settlement risk. Yang mana cakupan risiko pembiyaan nya adalah Kurang lancar bayar, diragukan, macet dan Non performing financing (NPF) gross & net.

Karena memiliki prosedur dan risiko yang amat tinggi maka pembiayaan pun memiliki syarat dan ketentuan yang mana akan dipenuhi dan diawasi oleh masing masing pemegang kebijakan tersebut, berikut adalah gambaran umum proses pembiayaan di bank islam yaitu:

Pertama, proses pengajuan dan pemeriksaan dokumen legalitas. Kedua, pre screening. Ketiga, verifikasi data. Keempat, analisis pembiayaan. Kelima, proses rekomendasi dan usulan. Keenam, proses persetujuan. Ketujuh, pengawasan dan maintenance pembiayaan.

Kemudian, bank pun mempunyai masalah / risiko dalam menghadapi pembiyaan yang mana dapat mengahmbat sirkulasi kinerja bank itu sendiri, berikut adalah risiko bank dalam melakukan pembiayaan yaitu:

Pertama, Awal kontrak Information opacity (akses informasi yang sulit); Asymetric information (Ketidakseimbangan informasi). Dan mitigasi adalah Proses seleksi debitur yang ketat (limit pembiayaan,bentuk akad, imbal hasil, jangka waktu, pembiayaan, agunan dan jaminan serta appraisalnya).

Kedua, yang terjadi saat tengah kontrak yakni Uncertainty of market condition (dinamika kondisi lingkungan), Information opacity, Asymetric information, Granularity (banyak nasabah namun nilai pembiayaannya kecil-kecil). Ketidakmampuan bank menentukan sebab terjadinya gagal bayar – tidak bisa / mau bayar (moral hazard).
Ketiga, akhir kontrak Uncertainty of market condition, Information opacity, Asymetric information. Dan mitigasi Restrukturisasi, Kelonggaran waktu, Write off.

Dalam melakukan pembiayaan, untuk menghindari mudharat, bank dapat meminta agunan (rahn), jaminan (kafalah) dari pihak ketiga. Lalu sempat disinggung diatas akan mitigasi. Mitigasi adalah Pemilihan harta yang diagunkan, penilaian harta yang wajar, analisis pasar ketika harta dilikuidasi, penetapan pagu pembiayaan berdasarkan harta agunan.

Dalam hal ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa melakukan sebuah pembiayaan itu tak mudah dengan apa yang kita bayangkan terlebih disituasi yang serba sulit seperti ini yang mana pihak bank mengalami krisis dikarenakan banyak diantara nasabahnya yang gagal bayar dengan kita sebagai nasabah yang ingin melakukan usaha dan ingin melakukan pembiayaan dikarenakan keterbatasan dana. Oleh karena itu kita dituntut berfikir kreatif dan objektif dalam menetukan nasib kita kedepannya.

Artikel By : Fahri Muhamad Fauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *