Semangat Level Up_ “Aku Mentoring, Kini Hingga Nanti”

2 min read

Al-Quran dan Sunnah

Di tengah zaman perang pemikiran yang begitu mengerikan ini, umat muslim harus dapat bertahan dan merespon kejadian dengan sebaik-baiknya. Mulai dari orang dewasa, pemuda, remaja, hingga anak-anak. Mengutip dari buku Sistem Dajjal karya Ahmad Thomson yang menggambarkan situasi keadaan dunia dan khususnya Indonesia saat ini. Dalam buku tersebut memberikan gambaran bahwa begitu terlihatnya kejadian perang pemikiran di dalam kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari pendidikan, kesehatan (farmasi/kedokteran), peradilan, bahkan hingga pemerintahan dan masih banyak lagi. Merespon hal tersebut, kita sebagai umat muslim harus memiliki pegangan/pedoman yang bisa membuat kita tetap di dalam koridor yang benar bagi seorang muslim. Kunci dari hal tersebut ialah Al-Quran dan sunnah, dimana jika seorang muslim dapat berpegang teguh terhadap 2 hal tersebut maka insyaallah orang tersebut akan tetap di dalam koridornya.

Kondisi Kepemimpinan Dalam Diri

Melihat kondisi anak- anak dan remaja saat ini yang menjalankan sistem pendidikan. Ternyata memiliki dampak di dalam tumbuh kembang kepemimpinan dirinya. Terlalu terbiasa dengan sistem pendidikan yang sudah ada saat ini menyebabkan kurang terasahnya hal tersebut. Merespon hal tersebut juga, kita sebagai orang – orang yang sadar akan kejadian dan masalah ini harus bisa mengambil tindakan sebaik -baiknya. Memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa menyelesaikan dan menghadapi perang pemikiran dan permasalahan yang ada. Umat muslim sudah memiliki 2 kunci pedoman seperti di atas tadi. Lalu salah metode yang bisa digunakan untuk membawakan dan memfollow-up 2 kunci tersebut bisa menggunakan mentoring tarbiyah.

Mengutip penjelasan mengenai definisi mentoring/tarbiyah oleh Ust. Jibran Hanif. Tarbiyah adalah cara yang paling ideal dalam berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Dari definisi tersebut kita dapat mengambil beberapa komponen yang bisa kita jelaskan, yaitu :

Mencapai suatu tujuan

Tujuan yang di maksud dari tarbiyah ini sendiri adalah 10 karakter seorang muslim (Muwasafat Tarbiyah). Muwasafat berasal daripada perkataan akar yang membawa maksud ciri-ciri atau watak atau rupa diri. Muwasafat tarbiyah ialah ciri-ciri ataupun peribadi yang perlu ada pada seorang seorang muslim.[1] Seperti dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 110 “kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (kerana kamu) menyuruh (berbuat ) yang maaruf dan mencegah daripada yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli ktab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakkan mereka adalah orang fasik”.10 Karakter seorang muslim tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Aqidah yang bersih (Salimul Aqidah)
  2. Ibdah yang benar (Salimul Ibadah)
  3. Akhlak yang kokoh (Matinul Khuluq)
  4. Kekuatan jasmani (Qowiyul Jismi)
  5. Intelek dalam berfikir (Mutsaqqoful Fikri)
  6. Berjuang melawan hawa nafsu (Majahadatun Linafsihi)
  7. Pandai menjaga waktu (Harisun ‘Ala Waktihi)
  8. Teratur dalam berurusan (Munazhzhamun fi Syu’unihi)
  9. Memiliki kemampuan usaha sendiri / Mandiri (Qodirun ‘alal Kasbi)
  10. Bermanfaat bagi orang lain (Naafi’un Lighoirihi)

 

Interaksi

Untuk mencapai tujuan tesebut dipastikan kita memerlukan metode/cara yang digunakan untuk bisa memberikan dampak bagi yang membina dan dibina. Cara tersebut ialah berinteraksi. Pembeda antara majelis ilmu dan tarbiyah adalah kadar interaksinya. Dalam majelis ilmu biasanya condong guru yang dominan berbicara dan memberikan ilmunya walaupun di dalam majelis ilmu juga ada saatnya pendengarnya memberikan feedback, tapi tetap lebih dominan dari gurunya. Berbeda dengan tarbiyah yaitu kelompok yang hanya terdiri 7-12 orang, menggunakan metode 2 arah antara murobbi dengan mutarobbinmya yang walaupun ada yang lebih dituakan (Murobbi) tapi tetap hampir imbang interaksi di dalamnya. Materi dari tarbiyah juga berkelanjutan yang bertujuan untuk mencapai pribadi 10 karakter muslim di atas.

Dengan fitrah manusia

Setiap orang memiliki potensi keimanan di dalam dirinya. Setiap orang juga dapat berubah karena Allah maha membolak balikkan hati. Itu merupakan sebuah fitrah dari seorang manusia, Menurut ajaran Islam, manusia terlahir dengan naluri yang sesuai dengan Islam dan meyakini keberadaan Tuhan. Naluri ini disebut fitrah, yang didefinisikan sebagai keadaan asal yang murni dalam diri manusia yang mengarahkannya untuk mengakui kebenaran akan keberadaan Tuhan dan mengikuti petunjuk-Nya. Dari definisi tersebut lah dasar kenapa kita harus melakukan yang namanya mentoring / tarbiyah ini, yaitu manusia dalam fitrahnya sudah memiliki naluri tersebut yang dimana harus diolah agar bisa sesuai dengan jalurnya. Cara untuk dapat melakukan hal itu salahsatunya dengan metode mentoring / tarbiyah ini.

Dengan sudah memiliki alasan, kunci, definisi, tujuan, prinsip dan pondasi dasar. Kita bisa menjalankan yang namanya mentoring / tarbiyah. Cara yang ideal untuk mencapai tujuan tersebut dan dapat berkesinambungan agar tidak membosankan juga  adalah menggunakan dengan 3 point yaitu level up ruhiyah, level up fikriyah, dan level up jasadiyah.

 

 

https://demiislam.wordpress.com/tag/10-musafat-tarbiyyah/

https://id.wikipedia.org/wiki/Fitrah

 

 

Oleh: Andi Bolqiah, Mahasiswa STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *