Transaksi Akad Salam dalam jual-beli

2 min read

Sudah Banyak terjadi pada saat ini dalam melakukan segala apapun menggunakan perangkat “ Smartphone “  yang mana sudah tidak bisa dibendung dalam informasi, berita, ekonomi , dan lainnya. Termasuk pada system jual beli yang bersifat muamalah pada kepada muslim/masyarakat lainnya, sehingga umat muslim tidak merasa kesusahan dalam melakukan transaksi yang tidak memerlukan uang secara langsung tapi bisa lewat e-money , transfer dan metode lainnya tetapi harus berlandaskan ketentuan yang jelas dalam Al-Quran , hadist maupun ijtihad dalil-dalil yang mumpuni agar sebagai pedoman untuk mengarahkan system ekonomi syariah dan halal.

Pengertian

Salam adalah akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) dengan pengiriman barang di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu.

as-salam sebagai akad yang disepakati dengan cara tertentu dan membayar terlebih dahulu, sedangkan barangnya diserahkan di kemudian hari. Imam Maliki mendefenisikan as-salam dengan jual-beli yang modalnya dibayar dahulu, sedangkan barangnya diserahkan sesuai waktu yang disepakati

Dalil Akad Salam

“ Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” ( Al-Baqarah : 282 )

Dalam akad salam menurut pendapat jumhur ulama disimpulkan dasar faktor yang harus dipenuhi antaranya ;

  1. Aqidain’ ( 2 orang yang berakad )
  2. Ijab – qabul
  3. Objek barang

 

Akan tetapi pada era saat ini dan system akad  jual beli berubah dengan seiringnya perkembangan zaman maka kita harus mengambil substansinya atau titik kesamaanya agar tidak keluar dari koridor syariat islam.

  • Aqidain’ ( 2 orang yang berakad )

Penjual ( merchant ) dan pembeli ( customer ) harus sama memiliki barang yang ingin diberikan, yaitu pada sisi penjual menyerahkan barangnya dan pada sisi customer memberikan hartanya yang senilai dengan barang yang ingin dibeli. Akan tetapi pada sisi penjual harus memiliki asset yang mana harta tersebut nyata sebagai kepemilikan yang sah dari si penjual ( ra-sul mal’ as-salam ).

Sebagaimana Hadist Nabi

“Apabila kamu melakukan transaksi jual beli maka katakanlah; tidak ada penipuan. Maka ketika seorang laki-laki melakukan transaksi jual beli maka katakanalah; tidak ada penipuan” (HR. Ibn Majah)

  • Ijab qabul

Ijab menurut Hanafiah, Malikiyah, dan Hanabilah menggunakan lafal salam dan ba’i . seperti ucapan pemesan “saya pesan barang ini” kemudian di jawab oleh pihak lain yang dimintai pesanan “saya terima pesanan itu”. Akan tetapi, menurut Imam Zufar dan Syafi’iyah, salam tidak sah kecuali menggunakan lafal salam atau salaf. Untuk lafal ba’i dikalangan Syafi’iyah ada dua pendapat, sebagian lagi mengatakan boleh (sah), karena salam merupakan salah satu bagian dari jual beli.

Atau dengan contoh si pembeli memesan barang disalah satu marketplace dengan membayar secara langsung atau via transfer , sedangkan di sisi penjual mengirimkan pesanan setelah adanya pemesanan atau pembelian dengan kriteria pesanan yang sesuai dengan pembeli.

  • Objek jual beli

Pada sisi objek jual beli haruslah jelas spesifikasinya, kualitas dan juga kualitsnya dan sebanding dengan harga yang dijual dan diserahkan pada waktu akad pemesanannya, semata-mata untuk menciptakan jual beli yang sehat dan mendapatkan keberkahan dari apa yang dihasilkan dan tidak bercampur  unsur-unsur yang dirugikan atau gharar didalamnya, sebagaimana allah berfirman ;

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Al-Maidah : 8

Makna ayat diatas tersebut adalah allah swt menyuruh kita untuk berbuat adil dalam segala hal aspek apapun , baik dalam hal berjual-beli ataupun dari hal bermuamalah lainnya, karena itulah syariat yang menjadi pedoman bagi umat muslim, untuk selalu punya landasan disetiap kegaitanya dan juga terjaga dari sifat syubhat

Kesimpulan

Transaksi akad salam ialah akad yang ditangguhkan atau (transfer uang dulu ke penjual, baru kirim barang) sebagai perjanjian akad diterima/as-salam.  akan tetapi, diperbolehkan menurut jumhur ulama dan dari kalangan ulama syafi’iyyah menjelaskan dengan secara rinci dengan beberapa ketentuan , sehingga akad salam ini menjadi alternatif bagi umat muslim dalam melakukan jual-beli sebagai mana dalil umum dalam kaidah jual-beli pada umumnya.

الأصل في المعاملت الإباحة  الا يدل  دليل تحرمها

“ asal dari muamalah itu (boleh) kecuali, ada dalil yang mengharamkanya”

 

 

Oleh: Muhammad sayyid syafiq, mahasiswa STEI SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *