Tujuan, Fungsi Serta Penerapan Manajemen Risiko Bank Syariah

7 min read

Apa yang dimaksud dengan Manajemen risiko Bank Syariah?

Nah yang Pertama yaitu Resiko di dalam Al Qur’an. Ada beberapa ayat Al-Qur’an, hadits, serta kaidah fiqh yang memberikan penjelasan perlunya melakukan Manajemen risiko bahkan mitigasi risiko terhadap ketidak pastian yang memungkinkan terjadi, yaitu di dalam Al-Qur’an, firman Allah SWT dalam Surah:

  1. Dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” (Yunus : 31)
  2. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. (Luqman : 34)
  3. Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. (Al hasyr : 18)
  4. Dan dia (Yakub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula bertawakallah orang-orang yang bertawakal.” (Yusuf : 67)

Dalam beberapa ayat-ayat Alquran yang sudah disebutkan, disini menjelaskan adanya ketidaksesuaian dalam bisnis, dan hal ini membuat seluruh bankir harus senantiasa melakukan mitigasi dan setiap resiko yang ada, dan kemungkinan terjadi bahkan pasti terjadi. Namun di dalam ayat-ayat tersebut memberikan sebuah pemahaman bahwa tidak hanya berpasrah pada keadaan, tetapi kita juga harus bertawakal dan selalu berserah diri kepada Allah SWT.

Kemudian ada juga beberapa hadits yang menjelaskan bagaimana melakukan manajemen risiko dan mitigasi risiko yaitu:
– Pada suatu hari nabi Muhammad Saw bertemu seorang laki-laki dari suku Badui yang meninggalkan untanya tanpa mengikatnya Rasulullah bertanya: mengapa engkau tidak mengikat untamu? Dia akan lari dan menimbulkan masalah bagiku. Sang Badui menjawab aku bertawakal kepada Allah SWT aku serahkan semua keputusanku kepadanya. Rasulullah SAW: tidak ada serta merta menyetujui ketawakalan laki-laki itu bahkan beliau bersabda: ikatlah dahulu untamu lalu kemudian bertawakal kepada Allah SWT. (HR. Tirmidzi)

– Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain. (HR. Ibnu majah)
Hadis diatas, maka jelas bahwa hadits tersebut menggambarkan atau memberikan Penjelasan bahwa segala resiko akan terjadi dan Segala resiko itu harus dihadapi dan Pada akhirnya ketika mitigasi Sudah dilakukan maka hanya tawakal dan berserah diri kepada Allah tempat akhir dari Segala perbualan yang sudah kita Lakukan.

Selanjutnya ada kaidah fiqh, Kaidah fiqh yang memberikan pesan-pesan dan bagaimana pentingnya manajemen resiko. Yaitu sebagai berikut :
– Segala mudharat sebisa mungkin harus dihindari.
– Mencegah harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.
– Kerugian adalah imbalan atas manfaat yang didapatkan.
– Manfaat dari suatu hal adalah imbalan atas liabilitas karena menanggung hal dari hal tersebut.

Dan yang diatas merupakan beberapa ayat-ayat, hadits dan kaidah fiqh yang memberikan Penegasan dan pesan tentang manajemen resiko yang harus dilakukan oleh bank Syariah.

Bagaimana mengelola manajemen risiko?

Tentunya manajemen risiko dikelola oleh yang ahli di bidangnya. Dan kontekstual ini Sudah dijelaskan didalam al qur’an :
– Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (Yusuf: 55)
– maka jika kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercaya itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Tuhannya. (Al Baqarah: 283)
– Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi. Ada seorang sahabat bertanya “Bagaimana maksud amanat disia-siakan? Nabi menjawab Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu. (HR. Bukhari)

Dari ayat dan hadist tersebut kita dapat memetik sebuah hikmah bahwa orang-orang yang Pandai dan orang yang berpengalaman bahkan orang-orang yang memang diberikan amanah dalam sebuah bidangnya yang ditekuninya tentunya, dia memiliki kepintaran, pemahaman dan penguasaan untuk menanggulangi risiko di Setiap bidang yang digelutinya. Berarti ketika di dalam aktivitas bank Syariah mengalami risiko Maka tentunya bank Syariah harus memberikan amanat tersebut kepada orang-orang yang benar-benar ahli dalam mengelola risiko-risiko yang akan dihadapi bank Syariah Tentunya risiko tersebut akan terjad dan tentunya harus dilakukan mitigasi risiko dalam menghadapi ketidakpastian atau kepastian yang terjadi yg akan menimbulkan resiko. Dan inilah yang harus kita pahami bagaimana Melakukan mitigasi risiko yang sesuai dengan ajaran-ajaran islam.

Bank Syariah dan Pengertian Risiko

Pengertian:
– Risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa.
– Risiko Kerugian adalah kerugian yang terjadi sebagai konsekuensi langsung atau tidak langsung dari kejadian resiko.
– Dasar Hukumnya adalah UU No 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah Pasal 35 dan 38, Peraturan OJK No 65/POJK.03/2016 serta POJK No 8/POJK.03/2014
– Manajemen Risiko adalah serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan resiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha bank syariah.

Alasan Bank syariah memerlukan regulasi khususnya bank syariah di Indonesia adalah karena adanya risiko yang melekat dalam perbankan syariah, yaitu risiko sistemik, yang dipicu oleh faktor likuiditas, solvabilitas, gejolak ekonomi dan perkembangan pasar perbankan.

Kenapa Bank Syariah memerlukan Regulasi?

Regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah bertujuan untuk melindungi nasabah dan Perekonomian dari kegagalan proses dan prosedur. Serta risiko-risiko yang sistemik, Risiko Sistemik yang telah dipicu oleh faktor Likuiditas, Solvabilitas, gejolak ekonomi dan Perkembangan pasar Perbankan. Ini merupakan risiko-risiko yang Sangat melekat di bank Syariah. Dan Risiko ini pasti terjadi di dalam bank Syariah.

Pengertian faktor risiko-risiko yang sistemik:

  1. Risiko Likuiditas adalah Bagaimana kemampuan bank Syariah untuk mendanai aktiva, dan Memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo.
  2. Solvabilitas adalah kemampuan membayar Setiap klaim Setiap jatuh tempo.
  3. Gejolak ekonomi adalah yang memiliki hubungan bagaimana proses ataupun aktivitas bisnis di bank Syariah yang bisa mengalami inflasi ataupun dipicu oleh faktor-faktor makro ekonomi dan mikro ekonomi, sehingga bagaimana bank Syariah bisa keluar dari kegagalan sistem gejolak ekonomi. Contohnya ketika pada masa Corona ini.
  4. Perkembangan pasar perbankan yaitu Regulasi Perkembangan pasar di sini lebih identik atau berhubungan dengan risiko pasar, artinya bagaimana bank Syariah bisa memberikan Segmen-segmen pasar atau marketplace yang memang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan Stakeholder ataupun massa.

Penerapan manajemen risiko

Apa dampak dari Penerapan manajemen risiko yang tidak baik? tentu dampaknya memiliki multiplier efek misalnya dampak bagi pemegang Saham, bagi Pemegang Saham tentunya bisa kehilangan seluruh Investasi atau Bangkrut.
kemudian investor memiliki risiko dari penurunan nilai investasi, karena ketika bank Syariah mengalami penurunan lambat, ini akan berdampak kepada investor yaitu penurunan nilai investasi. bahkan akan mengalami kehilangan dividen atau kehilangan Saham, karena bank Syariah mengalami kerugian. Kemudian dampak bagi pegawai atau karyawan di bank Syariah yaitu Terjadinya pemecatan atau PHK karyawan, Pemotongan gaji karyawan.Risiko-risiko dari perusahaan diakibatkan ketidak disiplinan karyawan baik diSengaja maupun tidak Dampak bagi nasabah bank Syariah yaitu nasabah tidak akan memiliki kepercayaan, Sehingga akan menurunkan tingkat kualitas layanan kemudian pengurangan ketersediaan produk, krisis Likuiditas karena diakibatkan nasabah menarik dananya secara besar-besaran dan berubahnya peraturan-peraturan Inilah Sebab-sebab yang fatal Jika Penerapan manajemen risiko itu tidak dilakukan dengan baik, maka Perlu melakukan mitigasi risiko dan penetapan Manajemen yang efektif Jika disesuaikan dengan ukuran dan Kompleksitas usaha serta kemampuan bank Syariah.

Kewajiban OJK Dalam Penerapan Manajemen Risiko di Bank Syariah

Ada beberapa jenis risiko yang menjadi Peraturan dan seluruh bank Syariah di Indonesia harus melakukan penerapan dan penilaian, pemantauan dan identifikasi terkait Jenis-jenis risiko yang sudah ditentukan oleh OJK .
Jenis-jenis risiko tersebut adalah:

– Risiko kredit
– Risiko pasar
– Risiko likuiditas
– Risiko operasional
– Risiko hukum
– Risiko reputasi
– Risiko stratejik
– Risiko kepatuhan
– Risiko imbal hasil
– Risiko investasi

Dan risiko tersebut ditetapkan oleh OJK dan diwajibkan untuk seluruh bank syariah di Indonesia untuk melakukan proses identifikasi, pengukuran, dan pemantauan bagaimana bank Syariah harus melakukan mitigasi risiko, dan tentunya risiko-risiko tersebut harus berhubungan dalam kegiatan usaha bahkan operasional di bank syariah.

Aspek Dalam Manajemen Risiko

Ada beberapa Aspek di dalam manajemen yang harus diperhatikan yaitu:
– Pengawasan aktif direksi, dewan komisaris dan dewan pengawas syariah. Dan inilah orang² yang melakukan pengawasan aktif untuk mengidentifikasi dan memantau proses Penetapan manajemen risiko yang ada di bank Syariah.
– Kecukupan kebijakan dan prosedur manajemen risiko dan penetapan limit risiko.
– Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, pengendalian risiko serta sistem informasi manajemen risiko.
– Sistem pengendalian intern yang menyeluruh.
Beberapa aspek ini merupakan poin-poin penting yang harus diperhatikan di dalam bank Syariah.

Jenis-jenis Risiko

Nah, Selanjutnya yaitu jenis-jenis Risiko bank syariah Serta bagaimana bank Syariah melakukan Penilaian Terkait Profil risiko di bank Syariah. Profil risiko di bank Syariah ada 5 tingkat dimana, Peringkat ini secara umum di implementasi di Bank Syariah, Peringkat-peringkat yang merupakan faktor profil risiko ini mencerminkan Semakin rendah risiko yang dihadapi oleh bank maka bank Syariah tersebut dapat melakukan mitigasi risiko dalam pengendalian. Risiko Peringkat tersebut yaitu :

1. Risiko kuat
2. Risiko memadai
3. Risiko memadai
4. Risiko kurang memadai
5. Tidak memadai

Contoh profil risiko atau tingkat penerapan manajemen risiko ini memiliki kategori-kategori. Kemudian apa saja jenis-jenis risiko memiliki kategori kemudian apa Jenis risiko yg di hadapı bank Syariah?
Risiko-risiko tersebut adalah sebagai berikut:

1) Risiko kredit

resiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Risiko Pasar ini biasanya terjadi karena adanya perubahan dari pasar yaitu nilai Pasar di masyarakat yang berbeda dengan nilai buku, dan ada perubahan harga nilai Pasar dan harga nilai buku. Nah, ketika terjadi perubahan nilai maka tentu akan menyebabkan sebuah risiko. Contoh harga mobil di pasar 100 juta, tetapi yang dicatat 110 Juta, dan Maka ini akan mengalami kerugian, karena ada perubahan nilai harga pasar yang menyebabkan kerugian di Pencatatan bank Syariah.

2) Risiko pasar

Resiko pada posisi neraca dan rekening administratif akibat perubahan harga pasar, antara lain resiko berupa perubahan nilai aset yang dapat diperdagangkan atau disewakan. Artinya berarti bank tidak mampu untuk memenuhi kewajiban yang Jatuh tempo. Contoh, ada nasabah yang mau menarik dananya Secara besar-besaran tetapi bank tidak memiliki dana, Maka ini akan menyebabkan risiko likuiditas, karena bank tidak memiliki dana ketika Nasabah ingin menarik dananya yang Sudah Jatuh tempo.

3) Risiko likuiditas

Resiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan tanpa mengganggu aktivitas dari kondisi keuangan bank. Misalnya kesalahan input data yang disebabkan oleh human error.

4) Risiko operasional

Risiko kerugian yang diakibatkan oleh proses internal yang kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia,kegagalan sistem, atau adanya kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional bank.

5) Risiko hukum

Risiko akibat tuntutan hukum atau kelemahan aspek yuridis. Biasanya risiko hukum ini terjadi karena adanya klaim antara pihak bank dan nasabah ataupun ada tuntutan atau gugatan dari perusahaan lain. Nah, ini akan menimbulkan risiko hukum yang tentunya akan terjadi risiko kerugian.

6) Risiko reputasi

Risiko menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang berasal dari persepsi negatif terhadap bank. Jadi kalau masyarakat sudah menilai atau memiliki persepsi negatif terhadap bank Syariah, tentunya ini akan menurunkan reputasi masyarakat atau stakeholder terhadap bank Syariah misalnya masyarakat berpikir bahwa bank Syariah dan konvensional sama saja, ini berarti menurunkan reputasi maka berarti memiliki tugas untuk memberikan persepsi kepercayaan dan keyakinan yang utuh pada masyarakat Sebagai Stakeholder

7) Risiko strategi

resiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan atau keputusan stratejik serta gagal dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. misalnya Sebelum dan sesudah pandemi corona. Pasti akan terjadi perubahan bisnis Maka bank Syariah harus melakukan dinamisasi atau Perubahan bisnis sebelum dan sesudah pandem Corona, dan ini harus dilakukan secara strategik bagaimana caranya bisa mempertahankan kepercayaan nasabah, kenapa? karena di masa Pandemi nasabah akan melakukan investasi.

8) Risiko kepatuhan

Risiko akibat bank tidak mematuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku serta prinsip-prinsip syariah. Dan ini memang sudah ditentukan oleh fatwa DSN MUI, Nah ini juga akan berdampak Risiko sebagaimana bank Syariah memiliki tujuan maqashid Syariah yang utuh karena ketika risiko kepatuhan dilaksanakan dengan baik maka tentunya akan berdampak pada risiko reputasi. Jika bank Syariah benar-benar menerapkan nilai prinsip syariah dengan baik dan tentunya akan meningkatkan reputasi atau kepercayaan masyarakat kepada bank Syariah.

9) Risiko imbal hasil

Risiko akibat perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan bank kepada nasabah dari penyaluran dana yang dapat mempengaruhi perilaku nasabah dana pihak ketiga bank. Artinya ketika ada perubahan jumlah tingkat Imbal hasil, dimana bank Syariah harus membayarkan kepada nasabah dari penyaluran dana yang dilakukan bank Syariah, maka ini akan memicu risiko imbal hasil.

10) Resiko investasi

Risiko akibat bank ikut menanggung kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan berbasis bagi hasil baik yang menggunakan metode net revenue sharing dan PLS. Jadi,itulah jenis-jenis risiko-risiko bank yang harus dipatuhi oleh Bank syariah di Indonesia.

Artikel By : Nur Maida Rambe STIE SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *